![]() |
Sumber gambar : Free Photo | Free photo young muslim man is writing a white board (freepik.com) |
Tak pernah
lekang dari waktu dan terus berinovasi agar menjadi sesuatu yang baru,
pendidikan terus menemukan arah dan cara yang baru. Pendidikan, sesuatu hal
yang dari dahulu hingga dewasa ini masih menjadi kebutuhan pokok insan di
dunia. Sedikit mengutip pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara di mana
pendidikan mempunyai makna menuntun, membimbing, mengarahkan suatu potensi yang
telah ada terlebih dahulu dalam diri anak tersebut sesuai dengan kodratnya. Tak
melulu berbicara hingga berbuih siapa yang berhak dan mempunyai kewajiban dalam
membawa suatu pendidikan, tidak ada gender dalam pendidikan. R.A Kartini, siapa
yang tak mengenal beliau, memang tidak memiliki kekuatan maskulin yang dapat
mendobrak keterbelengguan oleh adat. Namun Kartini memiliki kekuatan dalam
kelembutannya, terus bergerak dalam sapuan penanya untuk menerobos benteng –
benteng ketidak adilan hingga zaman ini. Tak pantas jika pendidikan masih
mempertanyakan siapa yang berhak dan siapa yang berkewaijban. Patut
dipertanyakan jika isi dari pendidikan yang dibawa itu hilang, mengutip dari
Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia
tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dalam sejarah”.
Pendidikan
identik dengan bangunan yang disebut sekolah, sejatinya sekolah adalah rumah
kasih sayang, rumah cinta (the school of love) para penziarahnya.
Sebaliknya, sekolah bukanlah tempat yang tepat untuk melampiaskan amarah dan
konflik pribadi. Namun apa hendak dikata, impian tak seindah harapan. Sekolah
masih dihantui dengan tindak kekerasan oleh segelintir orang tersesat dan
membungkus statusnya layaknya seorang guru. Menjadi guru bukan hanya menziarahi
sekolah saat jam pelajaran, menandatangani absen lalu bergegas pulang, bukan
pula pada baju safari dan berdasi, apalagi isi tas yang berisi buku dan alat
tulis. Seorang guru harus menjadi contoh yang baik bagi muridnya, menggambarkan
nilai – nilai yang ingin mereka tanamkan. Melalui keteladanan, seorang guru
menunjukkan integritasnya dalam menghormati dan menghargai ilmu pengetahuan.
Kewibawaan guru juga penting dalam memelihara martabat keilmuannya, yaitu
dengan memastikan bahwa pengetahuan yang dia sampaikan didasarkan pada fakta
dan kebenaran, serta dijaga dari penyelewengan atau manipulasi. Menjadi guru
jangan hanya tinggal diam menunggu gajian, sesekali menggerutu saat usulan
pangkat terhalang tulisan.
Berbicara
mengenai generasi muslim masa kini, apa tujuan yang sejalan dengan pendidikan
Islam dengan generasi sekarang? Bagai gelas kosong yang haus akan isi air.
Tidak lepas dari moral dan akhlak yang harus seimbang dengan materi yang telah
didapatkan. Jika hanya pikiran yang diisi, lalu kapan hati dapat diterangi?
Dengan apa dan siapa? Maka akhlak dan moral adalah sinarnya dalam pendidikan
yang diharapkan.
Di antara
pernyataan Al-Qur’an dan sabda Nabi tentang anak adalah “Dan orang – orang yang
berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri – istri kami dan
keturunan kami kesenangan hati, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang
bertakwa” (QS. AlFurqan : 74). Di ayat lain Allah SWT berfirman: “Hai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang
kasar, keras, tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya
kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. At Tahrim:
6). Sementara ungkapan tentang anak dalam hadits adalah sabda Nabi Muhammad
SAW; “Apabila manusia mati maka terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara:
sedekah jariyah, ilmu bermanfaat, atau anak shaleh yang mendo’akannya”
(HR. Muslim, dari Abu Hurairah).
Ibarat pepatah “benih yang baik memiliki kemungkinan yang
lebih besar untuk menghasilkan panen yang baik.” Mengharapkan generasi sekarang
memiliki akhlak yang baik, berarti harus dengan upaya menjaga dan menyirami
jiwa dengan kebaikan–kebaikan. Peran pendidikan bukanlah hanya untuk mengatur
perilaku subjek didik, tetapi lebih kepada mengubah pola pikir mereka dan
membentuk kebiasaan yang menjadi bagian integral dari kepribadian mereka.
Melalui pendidikan, individu diberikan pesan dan muatan nilai-nilai yang
penting dalam masyarakat. Mereka diberikan teladan dan contoh nyata dari orang
tua, pendidik, dan masyarakat yang dapat menjadi inspirasi dalam pembentukan
karakter dan sikap hidup yang positif. Pendidikan berfungsi sebagai alat untuk
membentuk mentalitas individu, yaitu cara pandang, sikap, dan pola pikir yang
mendasari tindakan mereka. Dalam proses pendidikan, individu didorong untuk
menginternalisasi nilai-nilai tersebut, sehingga menjadi bagian tak terpisahkan
dari kepribadian mereka. Tujuan utama pendidikan adalah mengubah perilaku
menjadi suatu kebiasaan yang positif dan melahirkan individu yang memiliki
karakter yang baik. Dengan demikian, peran pendidikan tidak hanya berfokus pada
aspek kognitif, tetapi juga pada pembentukan nilai-nilai, sikap, dan kebiasaan
yang positif dalam kehidupan sehari-hari individu.
Kendati
demikian, di tengah ketidakmungkinan dan keterpurukan hari ini, sejatinya harus
ada jalan yang dipertahankan dan strategi modern yang mesti ditempuh guna
menyelamatkan akhlak anak dan generasi bangsa hari ini. Sosialisasi akhlak Nabi
Muhammad SAW sebagai sosok uswatun hasanah sedianya terus saja dilakukan dengan
berbagai cara dan kemungkinan. Ikhtiar ini sejatinya tidak saja terdengar
gaungnya seperti angin lalu saja. Dalam penyiarannya bukan sebatas kaum
terpelajar seperti santri dan ulama saja, melainkan siswa dan pendidik di
sekolah.
Moral harus
diposisikan selalu di atas ilmu dan amal. Islam memandang pentingnya penguasaan
ilmu dan penegakan moral secara bersamaan. Hal yang menarik adalah bahwa dalam
Islam, penegakan moral ditempatkan di atas ilmu pengetahuan. Bahkan, penempatan
moral di atas ilmu memiliki hubungan yang erat dengan falsafah ilmu. Dengan
menekankan penegakan moral di atas ilmu, Islam mengajarkan bahwa ilmu
pengetahuan harus digunakan dengan etika dan bertanggung jawab. Pengetahuan
yang dimiliki harus digunakan untuk kebaikan, kesejahteraan, dan keadilan dalam
masyarakat. Dengan cara ini, Islam menghubungkan antara ilmu pengetahuan dan
moralitas, menjadikan keduanya saling melengkapi dalam mengarahkan individu
menuju kesejahteraan dunia dan akhirat. Jalan pikiran ini dibangun atas
keyakinan bahwa ilmu pengetahuan bertujuan mencerahkan dan menyejahterakan
manusia apabila dalam aksiologinya dipertimbangkan secara serius penegakan
moral. Sebaliknya, ilmu pengetahuan akan berbalik mendatangkan kesengsaraan dan
malapetaka bagi manusia manakala dalam aksiologinya minus moral dan akhlak.
Orang tua siap
kapan saja merampas masa depan anaknya karena menganggap itu milik mereka, dan
orang tua merasa lebih tau apa yang dibutuhkan anak – anak mereka. Namun
penting bagi orang tua untuk menghormati identitas dan keinginan anak – anak
mereka, serta memberikan ruang bagi mereka untuk mengeksplorasi dan menentukan
jalan hidup mereka sendiri. Sebab, setiap anak memiliki hak atas dirinya
sendiri, ia berhak memilih jalan hidupnya tanpa paksaan siapa pun, termasuk
orang tua. Bukannya orang tua semakin terbatas hak dan otoritas terhadap anak
nya sendiri, melainkan anak yang telah sedikit bebas dari belenggu otoriter
orang tua dan dengan bekal ilmu didukung akhlak dan moral yang baik, generasi
sekarang mampu mengarahkan sendiri ke mana ilmu itu akan bermuara. Ilmu yang
dapat mencerahkan tetapi tidak dapat menshalehkan akan melahirkan manusia
cerdas, namun jahat. Sebaliknya, manusia yang hanya bermoral, tetapi tidak
berilmu akan menjadi objek dan komoditas yang selalu diperalat dan diombang –
ambing pihak lain. Teringat ungkapan Confucius terkait dengan belajar-mengajar
“What I hear, I forget. What I hear and see, I remember a little. What I
hear, see, and ask questions about or discuss someone else, I begin to
understand. What I hear, see, discuss and do I aquire knowledge and skill. What
I teach to another, I master”.
Penulis : Puteri Roviraika Pramestiningtyas (Korp REVOLUSI)
0 Komentar