Hot Posts

6/recent/ticker-posts

OPTIMALISASI PENDIDIKAN UNTUK GENERASI MUSLIM YANG BERKUALITAS

 

Sumber gambar : Free Photo | Free photo young muslim man is writing a white board (freepik.com)


        Tak pernah lekang dari waktu dan terus berinovasi agar menjadi sesuatu yang baru, pendidikan terus menemukan arah dan cara yang baru. Pendidikan, sesuatu hal yang dari dahulu hingga dewasa ini masih menjadi kebutuhan pokok insan di dunia. Sedikit mengutip pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara di mana pendidikan mempunyai makna menuntun, membimbing, mengarahkan suatu potensi yang telah ada terlebih dahulu dalam diri anak tersebut sesuai dengan kodratnya. Tak melulu berbicara hingga berbuih siapa yang berhak dan mempunyai kewajiban dalam membawa suatu pendidikan, tidak ada gender dalam pendidikan. R.A Kartini, siapa yang tak mengenal beliau, memang tidak memiliki kekuatan maskulin yang dapat mendobrak keterbelengguan oleh adat. Namun Kartini memiliki kekuatan dalam kelembutannya, terus bergerak dalam sapuan penanya untuk menerobos benteng – benteng ketidak adilan hingga zaman ini. Tak pantas jika pendidikan masih mempertanyakan siapa yang berhak dan siapa yang berkewaijban. Patut dipertanyakan jika isi dari pendidikan yang dibawa itu hilang, mengutip dari Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dalam sejarah”.

Pendidikan identik dengan bangunan yang disebut sekolah, sejatinya sekolah adalah rumah kasih sayang, rumah cinta (the school of love) para penziarahnya. Sebaliknya, sekolah bukanlah tempat yang tepat untuk melampiaskan amarah dan konflik pribadi. Namun apa hendak dikata, impian tak seindah harapan. Sekolah masih dihantui dengan tindak kekerasan oleh segelintir orang tersesat dan membungkus statusnya layaknya seorang guru. Menjadi guru bukan hanya menziarahi sekolah saat jam pelajaran, menandatangani absen lalu bergegas pulang, bukan pula pada baju safari dan berdasi, apalagi isi tas yang berisi buku dan alat tulis. Seorang guru harus menjadi contoh yang baik bagi muridnya, menggambarkan nilai – nilai yang ingin mereka tanamkan. Melalui keteladanan, seorang guru menunjukkan integritasnya dalam menghormati dan menghargai ilmu pengetahuan. Kewibawaan guru juga penting dalam memelihara martabat keilmuannya, yaitu dengan memastikan bahwa pengetahuan yang dia sampaikan didasarkan pada fakta dan kebenaran, serta dijaga dari penyelewengan atau manipulasi. Menjadi guru jangan hanya tinggal diam menunggu gajian, sesekali menggerutu saat usulan pangkat terhalang tulisan.

Berbicara mengenai generasi muslim masa kini, apa tujuan yang sejalan dengan pendidikan Islam dengan generasi sekarang? Bagai gelas kosong yang haus akan isi air. Tidak lepas dari moral dan akhlak yang harus seimbang dengan materi yang telah didapatkan. Jika hanya pikiran yang diisi, lalu kapan hati dapat diterangi? Dengan apa dan siapa? Maka akhlak dan moral adalah sinarnya dalam pendidikan yang diharapkan.

Di antara pernyataan Al-Qur’an dan sabda Nabi tentang anak adalah “Dan orang – orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri – istri kami dan keturunan kami kesenangan hati, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. AlFurqan : 74). Di ayat lain Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. At Tahrim: 6). Sementara ungkapan tentang anak dalam hadits adalah sabda Nabi Muhammad SAW; “Apabila manusia mati maka terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu bermanfaat, atau anak shaleh yang mendo’akannya” (HR. Muslim, dari Abu Hurairah).

Ibarat pepatah “benih yang baik memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk menghasilkan panen yang baik.” Mengharapkan generasi sekarang memiliki akhlak yang baik, berarti harus dengan upaya menjaga dan menyirami jiwa dengan kebaikan–kebaikan. Peran pendidikan bukanlah hanya untuk mengatur perilaku subjek didik, tetapi lebih kepada mengubah pola pikir mereka dan membentuk kebiasaan yang menjadi bagian integral dari kepribadian mereka. Melalui pendidikan, individu diberikan pesan dan muatan nilai-nilai yang penting dalam masyarakat. Mereka diberikan teladan dan contoh nyata dari orang tua, pendidik, dan masyarakat yang dapat menjadi inspirasi dalam pembentukan karakter dan sikap hidup yang positif. Pendidikan berfungsi sebagai alat untuk membentuk mentalitas individu, yaitu cara pandang, sikap, dan pola pikir yang mendasari tindakan mereka. Dalam proses pendidikan, individu didorong untuk menginternalisasi nilai-nilai tersebut, sehingga menjadi bagian tak terpisahkan dari kepribadian mereka. Tujuan utama pendidikan adalah mengubah perilaku menjadi suatu kebiasaan yang positif dan melahirkan individu yang memiliki karakter yang baik. Dengan demikian, peran pendidikan tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga pada pembentukan nilai-nilai, sikap, dan kebiasaan yang positif dalam kehidupan sehari-hari individu.

Kendati demikian, di tengah ketidakmungkinan dan keterpurukan hari ini, sejatinya harus ada jalan yang dipertahankan dan strategi modern yang mesti ditempuh guna menyelamatkan akhlak anak dan generasi bangsa hari ini. Sosialisasi akhlak Nabi Muhammad SAW sebagai sosok uswatun hasanah sedianya terus saja dilakukan dengan berbagai cara dan kemungkinan. Ikhtiar ini sejatinya tidak saja terdengar gaungnya seperti angin lalu saja. Dalam penyiarannya bukan sebatas kaum terpelajar seperti santri dan ulama saja, melainkan siswa dan pendidik di sekolah.

Moral harus diposisikan selalu di atas ilmu dan amal. Islam memandang pentingnya penguasaan ilmu dan penegakan moral secara bersamaan. Hal yang menarik adalah bahwa dalam Islam, penegakan moral ditempatkan di atas ilmu pengetahuan. Bahkan, penempatan moral di atas ilmu memiliki hubungan yang erat dengan falsafah ilmu. Dengan menekankan penegakan moral di atas ilmu, Islam mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan harus digunakan dengan etika dan bertanggung jawab. Pengetahuan yang dimiliki harus digunakan untuk kebaikan, kesejahteraan, dan keadilan dalam masyarakat. Dengan cara ini, Islam menghubungkan antara ilmu pengetahuan dan moralitas, menjadikan keduanya saling melengkapi dalam mengarahkan individu menuju kesejahteraan dunia dan akhirat. Jalan pikiran ini dibangun atas keyakinan bahwa ilmu pengetahuan bertujuan mencerahkan dan menyejahterakan manusia apabila dalam aksiologinya dipertimbangkan secara serius penegakan moral. Sebaliknya, ilmu pengetahuan akan berbalik mendatangkan kesengsaraan dan malapetaka bagi manusia manakala dalam aksiologinya minus moral dan akhlak.

Orang tua siap kapan saja merampas masa depan anaknya karena menganggap itu milik mereka, dan orang tua merasa lebih tau apa yang dibutuhkan anak – anak mereka. Namun penting bagi orang tua untuk menghormati identitas dan keinginan anak – anak mereka, serta memberikan ruang bagi mereka untuk mengeksplorasi dan menentukan jalan hidup mereka sendiri. Sebab, setiap anak memiliki hak atas dirinya sendiri, ia berhak memilih jalan hidupnya tanpa paksaan siapa pun, termasuk orang tua. Bukannya orang tua semakin terbatas hak dan otoritas terhadap anak nya sendiri, melainkan anak yang telah sedikit bebas dari belenggu otoriter orang tua dan dengan bekal ilmu didukung akhlak dan moral yang baik, generasi sekarang mampu mengarahkan sendiri ke mana ilmu itu akan bermuara. Ilmu yang dapat mencerahkan tetapi tidak dapat menshalehkan akan melahirkan manusia cerdas, namun jahat. Sebaliknya, manusia yang hanya bermoral, tetapi tidak berilmu akan menjadi objek dan komoditas yang selalu diperalat dan diombang – ambing pihak lain. Teringat ungkapan Confucius terkait dengan belajar-mengajar “What I hear, I forget. What I hear and see, I remember a little. What I hear, see, and ask questions about or discuss someone else, I begin to understand. What I hear, see, discuss and do I aquire knowledge and skill. What I teach to another, I master”.


Penulis : Puteri Roviraika Pramestiningtyas (Korp REVOLUSI)

Posting Komentar

0 Komentar