1.
Nobody
Toha HR
Gen Z atau yang akhirnya lebih terkenal dengan nama Zoomer adalah
generasi remaja yang hari ini mulai memasuki fase dewasa. Para remaja ini hidup
dimanjakan dengan segala macam fasilitas dan teknologi yang membuat mereka
mengalami degradasi dalam pengetahuan dan profesionalitas dalam dirinya. Meski Gen
Z memiliki lebih benyak kesempatan dan akses untuk mendapatkan pendidikan,
namun masyarakat lebih mengenal mereka sebagai nobody (golongan yang
tidak memiliki pengaruh) di lingkungannya. Walaupun tidak bisa dipungkiri juga,
bahwa ada beberapa gerakan yang dibangun oleh Gen Z dapat memberikan
pengaruh besar dan positif di masyrakat. Namun tetap saja, mayoritas Gen Z
masih dikenal sebagai nobody di lingkungannya.
Dengan
banyaknya teknologi yang memanjakan Gen Z, mayoritas dari mereka menjadi
terlena dan tidak dapat mengenali diri mereka sendiri. Selain itu, mereka juga
kurang memahami kebutuhan yang harus dipenuhi untuk menghadapi kehidupan mereka
dan lebih mengikuti trend sebagai keinginan yang mereka dahulukan. Disini
sangat jelas bahwa Gen Z kurang memiliki pemahaman diri karena tidak
adanya kesadaran dalam diri mereka. Kesadaran diri atau sering disebut self
awareness adalah kemampuan untuk mengetahui aspek-aspek dasar yang
membentuk karakter dan kepribadian seseorang. Sehingga dengan memiliki
kesadaran diri, seseorang akan mengetahui hal-hal positif yang bermanfaat dalam
dirinya dan hal-hal negatif yang merugikan dirinya, serta bagaimana meningkat
potensi dirinya.
Dalam sebuah kisah di Jepang, ada seorang Samurai yang suka
bertarung. Suatu hari ia menemui Guru Zen untuk mendapat penjelasan konsep
surga dan neraka. Namun Guru Zen menjawab dengan nada menghina : “Kamu hanyalah
orang bodoh, aku tak mau menyia-nyiakan waktuku untuk orang semacammu!”
Karena harga
dirinya direndahkan, Samurai pun menghunuskan pedangnya dan berteriak : “Aku
akan membunuhmu karena kekurangajaranmu!”
Guru Zen dengan
tenang berkata : “Nah, itulah neraka”
Takjub melihat kebenaran yang disampaikan Guru Zen, Samurai pun langsung sadar
dan dapat mengendalikan amarahnya kemudian membungkuk dan mengucapkan terima
kasih.
Kemudian Guru
Zen berkata : “Nah, itulah surga”
Dari kisah tersebut, kita dapat
megetahui bahwa emosi sangat mempengaruhi karakter seseorang. Emosi yang
negatif akan memberikan dampak negatif dalam diri seseorang dan emosi positif
akan memberikan dampak positif juga dalam diri orang tersebut. Dan pengendalian
emosi adalah langkah pertama dalam self awareness sebelum kita dapat melakukan
penilaian diri dengan baik.
Dalam self
awareness, konsep emosi atau konsep diri positif dan negatif sangat
mempengaruhi bagaimana terbentuknya karakter seseorang. Seseorang dengan konsep
diri positif cenderung lebih memahami dirinya baik kekuatan atau kelemahan yang
dimiliknya. Kemudian ia akan menerima dirinya apa adanya dan ia akan berusaha
mengurangi kelemahan yang dianggap negatif dengan cara memanfaatkan
kelebihannya untuk menutupi kekurangan tersebut, atau ia akan menghilangkannya
dan menggantinya dengan kekuatan atau keahlian yang baru. Dan sebaliknya pula
bagi orang dengan konsep diri negatif, ia buta tentang dirinya sendiri. Ada tipe
pesimis yang hanya terpaku pada kekurangannya sehingga tidak memiliki
keberanian untuk mencoba hal baru. Ada juga tipe arogan yang hanya fokus pada
kelebihan dan kekuatan yang dimiliki, namun ia mengabaikan kekurangannya.
Karena beranggapan bahwa kekuatannya dapat menutupi kekurangannya, padahal yang
terjadi sebaliknya orang lain menilai kekurangannya membuat kelebihan yang
dimiliki menjadi tak berarti.
Disinilah
kemudian terlihat sebuah langkah yang harus diambil oleh Gen Z, dimana mereka harus mulai untuk meningkatkan
kesadaran atas diri mereka dengan pengendalian emosi positif dan negatif yang
ada agar dapat memiliki pemahaman mendalam terhadap diri sendiri. Pemahaman
diri yang berasal dari konsep diri yang positif, tentu akan menimbulkan pola
pikir yang positif pula, atau biasa disebut dengan positif thinking. Nah
dengan bekal baru yang disebut positif thinking inilah para Gen Z akan
memiliki rasa percaya diri yang tinggi sebagai somebody di
lingkungannya. Dan mereka akan lebih mudah untuk memotivasi diri serta terus
berkembang menjadi somebody yang lebih baik.
Referensi :
Wikipedia
tentang Generasi Z diakses pada 25 Februari 2021 jam 16.00
Diana, Ilma Afidah Nur
dkk. (2019) MODUL MAPABA (Masa Penerimaan Anggota Baru) 2019. Yogyakarta:
Rayon Wisma Tradisi.
Zaini, Hisyam,
dkk. (2014) SUKSES DI PERGURUAN TINGGI. Yogyakarta : CTSD UIN Sunan
Kalijaga.
Yahya, Helmi. (2020) WHO THE HELL
ARE YOU? Practical Lesson of Personal Branding. Bogor : PT Rumah Tulis.
2.
Nobody To Be Somebody
Toha HR
Setelah selesai
menjalani langkah pertama dalam memahami diri dan sebagai orang-orang yang
tidak mengenal kepuasan, Gen Z tidak boleh berhenti hanya dengan
berbekal kesadaran diri atau self awareness. Karena sudah jelas, untuk
mencapai tempat yang lebih tinggi pasti dibutuhkan usaha yang lebih keras.
Selain itu, tempat yang lebih tinggi selalu diincar oleh lebih banyak orang dan
semua akan saling bersaing dan membuat
lawannya menjadi kuno dan tak berharga dengan kelebihan dan kekuatan masing-masing.
Oleh karenanya, Gen Z harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik.
Dalam ilmu
komunikasi ada sebuah teori yang dikenal dengan penyingkapan diri atau self
disclosure. Self disclosure merupakan bentuk komunikasi yang membahas tentang
hubungan antar manusia dalam berinteraksi yang meliputi kecerdasan seseorang
dalam membuka diri kepada orang lain dalam domain open (terbuka), hidden
(tersembunyi), blind (buta) dan unknown (tidak diketahui)
sebagai seni intrapersonal dan ekstrapersonal.
Dalam teori Self
disclosure terdapat beberapa asumsi-asumsi. Yang pertama bahwa komunikasi
dalam suatu masyarakat akan semakin efektif jika sesama masyarakat saling
mengenal. Disini Gen Z memiliki keunggulan yang hebat dengan pengetahuan
mereka terhadap teknologi digital dan banyaknya media sosial yang dengan mudah
menjangkau lingkuangan yang luas. Namun kembali lagi, jika tidak bijak dalam
memanfaatkan media tentu jejak media yang ditingalkan akan menjadi buruk dan
itu juga sangat mempengaruhi pandangan masyarakat.
Kedua, semakin
terbuka dan jujur seseorang dalam berhubungan dalam masyarakat maka kualitas
hubungan yang dimiliki semakin baik. Disini kelemahan Gen Z adalah
selalu ingin mengikuti trend yang ada. Meski itu tidak selalu buruk namun untuk
mereka yang belum memiliki pemahaman diri yang baik, itu akan membuat mereka
semakin jauh dari diri mereka sebenarnya. Kejujuran dalam berkomunikasi sangat
penting karena dengan itu masyarakat akan selalu mengenal dan mengingwat,
karena tidak ada ekesempatan kedua untuk memberi kesan pertama. Dan dengan
budaya masyarakat yang sering menilai buku dari sampulnya, maka kesan pertama
yang harus masyarakat dapatkan adalah hal terbaik yang kita miliki, baik itu
sikap, cara bicara, fashion dan sebagainya.
Ketiga, konteks komunikasi dalam self disclsure itu dibangun
dengan memperhatikan empat domain sebagai berikut :
1.
Domain Open, yaitu wilayah dari diri
kita yang sudah diketahui oleh diri sendiri dan orang lain, contohnya sifat
kerja keras, humble dsb.
2.
Domain Hidden yaitu wilayah
yang diketahui oleh diri sendiri dan orang lain tidak mengetahuinya. Hal tersebut
kita sembunyikan atau kita rahasiakan sebagai cara untuk mempertahankan citra
seperti menyembunyikan kebiasaan buruk atau sesuatu yang dianggap sebagi aib.
3.
Domain Blind yaitu wilayah
yang tidak disadari oleh diri sendiri namun diketahui oleh orang lain. Biasanya
orang kurang memiliki kesadaran diri akan memiliki domain blind yang
cukup luas karena ia kurang memahami dirinya.
4.
Domain Unknown yaitu wilayah
yang belum diketahui oleh diri sendiri maupun orang lain. Domain unknown biasanya
berupa bakat atau potensi diri seseorang yang belum diketahui sama sekali.
Keempat, jika kita
berhubungan dengan orang lain maka kita akan mendapat sebuah feedback.
Nah feedback ini adalah suatu tanggapan atau umpan balik dari orang lain
yang mereka berikan kepada kita. Semakin baik personal kita, maka semakin baik
juga feedback yang kita dapatkan. Dalam self disclosure, feedback
yang didapatkan sangat kita membantu dalam meningkatkan pemahaman diri.
Open èèè Blind êêê î Hidden (Devensive) Unknown
Nah dengan
kelima asumsi self disclosure ini, Gen Z harus memiliki cara atau
pandangan yang akan membantunya untuk berhubungan dan berinteraksi di
masyarakat. Sebagai Gen Z, kita harus mulai menyadari dan berani untuk
meninggalkan zona nyaman dan mulai membuka diri ke masayarakat agar mendapatkan
feedback untuk lebih memahami dirinya. Terutama agar mulai mengetahui
domain blind dan domain unknown.
Refrensi :
Zaini, Hisyam,
dkk. (2014) SUKSES DI PERGURUAN TINGGI. Yogyakarta : CTSD UIN Sunan
Kalijaga.
Yahya, Helmi. (2020) WHO THE HELL
ARE YOU? Practical Lesson of Personal Branding. Bogor : PT Rumah Tulis.
3.
Now, I Am So
Special
Toha HR
Setelah kita
memiliki pemahaman diri yang mendalam, maka hal terakhir yang harus dilakukan
adalah menata diri. Penataan diri atau disebut self regulation adalah
suatu kondisi dimana pikiran kita sudah sanggup menata atau mengatur pikiran
dan tindakan kita. Menurut Zimmerman, self regulation merupakan proses
yang digunakan untuk mengaktifkan dan mempertahankan pikiran, perilaku dan
emosi untuk mencapai sebuah tujuan. Sehingga kemampuan individu dalam
mengerahkan pengetahuan, informasi, keterampilan dan kemampuan untuk memonitor hal
tersebut serta membuat pengukuran atas sebuah kemajuan menjadi sangat penting
untuk mencapai sebuah tujuan. Jadi semakin baik kemampuan seseorang dalam
menata diri, maka akan sangat berpengaruh pada apa yang ingin dicapainya baik
dalam karier, studi, prestasi, kesehatan dan sebagainya.
Dan dalam self regulation, kita harus dapat menata empat hal
yaitu :
1.
Tujuan apa yang akan dicapai?
2.
bagaimana mengontrol dan memonitor
pikiran dan tindakan untuk mencapai tujuan tersebut?
3.
Evaluasi apa yang harus dilakukan
terhadap pikiran dan tindakan yang kurang sesuai? Dan seberapa banyak kita
mengadakan evaluasi tersebut agar keputusan yang diambil semakin akurat?
4.
Apakah diperlukan sebuah apresiasi
saat berhasil mencapai step tertentu sebagai penguatan diri?
Dan untuk lebih jelas tentang penataan
diri, kita harus bijak dalam mengambil pilihan yang menjadi alternatif paling
tepat. Bagaimana mengambil sikap, pikiran dan perilaku yang diambil dapat melihat kegiatan berikut :
Thalib
adalah seroang mahasiswa semester 2 di UIN Sunan Kalijaga. Dikarenakan belum dapat menyesuaikan diri dengan sistem
pembelajaran daring, ia mendapat nilai yang kurang baik. Dan dengan
pengalaman yang didapat sebelumnya, ia bertekad untuk mendapat nilai yang
baik di semua matakuliahnya. |
|
1 |
Tujuan
mendapat nilai yang baik di semua mata kuliah -
Nilai yang sangat baik, semisal A
dan A- -
Nilai yang cukup baik, semisal A/B
dan B+ -
Nilai yang lebih baik dari
semester 1, semisal B dan B- |
2 |
Cara
mengontrol dan memonitor pikiran, sikap dan perilaku -
Membuat jadwal buku dan referensi
lain terkait mata kuliah yang harus dibaca -
Menyelesaikan buku dan referensi
lain terkait mata kuliah yang harus dibaca -
Membuat resum dari buku dan
referensi lain terkait mata kuliah yang harus dibaca |
3 |
Melakukan
evaluasi atas usaha yang sudah dilakukan -
Apakah buku dan refrensi selesai
seusai jadwal -
Apakah resum yang dibuat berhasil
membantu -
Apakah ada cara lain yang lebih
efektif |
4 |
Melakukan
apresiasi ketika menyelesaikan step by step -
Melakukan .... saat selesai
membaca buku sesuai jadwal -
Melakukan .... saat menyelesaikan
resum buku -
Melakukan .... saat selesai
membaca buku sebelum jadwal |
5 |
Sikap
ketika tujuan telah dicapai -
Puas dengan hasil yang dicapai
dengan usaha yang telah dilakukan -
Biasa saja karena hasil sesuai
dengan usaha yang telah dilakukan -
Biasa karena telah memiliki tujuan
baru yang lebih tinggi |
Dari hal di atas diketahui bahwa
ketika pikiran dan tindakan berada di kontrol yang tepat, maka tujuan yang
telah ditentukan bukan lagi hal yang sulit untuk dicapai. Disinilah seseorang
dapat disebut memiliki penataan diri yang baik, karena telah berhasi mengontrol
pikiran dan tindakan. Bukan dikontrol oleh orang lain dan kondisi disekitarnya.
Kemampuan penataan diri pun tidak hanya berpengaruh pada seberapa baik tujuan
dicapai, namun juga sangat memotivasi dalam mencapai tujuan yang lebih jauh
selanjutnya.
Refrensi :
Zaini, Hisyam,
dkk. (2014) SUKSES DI PERGURUAN TINGGI. Yogyakarta : CTSD UIN Sunan
Kalijaga.
Yahya, Helmi. (2020) WHO THE HELL
ARE YOU? Practical Lesson of Personal Branding. Bogor : PT Rumah Tulis.
0 Komentar