Hot Posts

6/recent/ticker-posts

To Be A Great Person

 


1.     Nobody
Toha HR

Gen Z atau yang akhirnya lebih terkenal dengan nama Zoomer adalah generasi remaja yang hari ini mulai memasuki fase dewasa. Para remaja ini hidup dimanjakan dengan segala macam fasilitas dan teknologi yang membuat mereka mengalami degradasi dalam pengetahuan dan profesionalitas dalam dirinya. Meski Gen Z memiliki lebih benyak kesempatan dan akses untuk mendapatkan pendidikan, namun masyarakat lebih mengenal mereka sebagai nobody (golongan yang tidak memiliki pengaruh) di lingkungannya. Walaupun tidak bisa dipungkiri juga, bahwa ada beberapa gerakan yang dibangun oleh Gen Z dapat memberikan pengaruh besar dan positif di masyrakat. Namun tetap saja, mayoritas Gen Z masih dikenal sebagai nobody di lingkungannya.

Dengan banyaknya teknologi yang memanjakan Gen Z, mayoritas dari mereka menjadi terlena dan tidak dapat mengenali diri mereka sendiri. Selain itu, mereka juga kurang memahami kebutuhan yang harus dipenuhi untuk menghadapi kehidupan mereka dan lebih mengikuti trend sebagai keinginan yang mereka dahulukan. Disini sangat jelas bahwa Gen Z kurang memiliki pemahaman diri karena tidak adanya kesadaran dalam diri mereka. Kesadaran diri atau sering disebut self awareness adalah kemampuan untuk mengetahui aspek-aspek dasar yang membentuk karakter dan kepribadian seseorang. Sehingga dengan memiliki kesadaran diri, seseorang akan mengetahui hal-hal positif yang bermanfaat dalam dirinya dan hal-hal negatif yang merugikan dirinya, serta bagaimana meningkat potensi dirinya.

Dalam sebuah kisah di Jepang, ada seorang Samurai yang suka bertarung. Suatu hari ia menemui Guru Zen untuk mendapat penjelasan konsep surga dan neraka. Namun Guru Zen menjawab dengan nada menghina : “Kamu hanyalah orang bodoh, aku tak mau menyia-nyiakan waktuku untuk orang semacammu!”

Karena harga dirinya direndahkan, Samurai pun menghunuskan pedangnya dan berteriak : “Aku akan membunuhmu karena kekurangajaranmu!”

Guru Zen dengan tenang berkata : “Nah, itulah neraka”          
Takjub melihat kebenaran yang disampaikan Guru Zen, Samurai pun langsung sadar dan dapat mengendalikan amarahnya kemudian membungkuk dan mengucapkan terima kasih.

Kemudian Guru Zen berkata : “Nah, itulah surga”

Dari kisah tersebut, kita dapat megetahui bahwa emosi sangat mempengaruhi karakter seseorang. Emosi yang negatif akan memberikan dampak negatif dalam diri seseorang dan emosi positif akan memberikan dampak positif juga dalam diri orang tersebut. Dan pengendalian emosi adalah langkah pertama dalam self awareness sebelum kita dapat melakukan penilaian diri dengan baik.

Dalam self awareness, konsep emosi atau konsep diri positif dan negatif sangat mempengaruhi bagaimana terbentuknya karakter seseorang. Seseorang dengan konsep diri positif cenderung lebih memahami dirinya baik kekuatan atau kelemahan yang dimiliknya. Kemudian ia akan menerima dirinya apa adanya dan ia akan berusaha mengurangi kelemahan yang dianggap negatif dengan cara memanfaatkan kelebihannya untuk menutupi kekurangan tersebut, atau ia akan menghilangkannya dan menggantinya dengan kekuatan atau keahlian yang baru. Dan sebaliknya pula bagi orang dengan konsep diri negatif, ia buta tentang dirinya sendiri. Ada tipe pesimis yang hanya terpaku pada kekurangannya sehingga tidak memiliki keberanian untuk mencoba hal baru. Ada juga tipe arogan yang hanya fokus pada kelebihan dan kekuatan yang dimiliki, namun ia mengabaikan kekurangannya. Karena beranggapan bahwa kekuatannya dapat menutupi kekurangannya, padahal yang terjadi sebaliknya orang lain menilai kekurangannya membuat kelebihan yang dimiliki menjadi tak berarti.

Disinilah kemudian terlihat sebuah langkah yang harus diambil oleh  Gen Z,  dimana mereka harus mulai untuk meningkatkan kesadaran atas diri mereka dengan pengendalian emosi positif dan negatif yang ada agar dapat memiliki pemahaman mendalam terhadap diri sendiri. Pemahaman diri yang berasal dari konsep diri yang positif, tentu akan menimbulkan pola pikir yang positif pula, atau biasa disebut dengan positif thinking. Nah dengan bekal baru yang disebut positif thinking inilah para Gen Z akan memiliki rasa percaya diri yang tinggi sebagai somebody di lingkungannya. Dan mereka akan lebih mudah untuk memotivasi diri serta terus berkembang menjadi somebody yang lebih baik.

Referensi :

Wikipedia tentang Generasi Z diakses pada 25 Februari 2021 jam 16.00

Diana, Ilma Afidah Nur dkk. (2019) MODUL MAPABA (Masa Penerimaan Anggota Baru) 2019. Yogyakarta: Rayon Wisma Tradisi.

Zaini, Hisyam, dkk. (2014) SUKSES DI PERGURUAN TINGGI. Yogyakarta : CTSD UIN Sunan Kalijaga.

Yahya, Helmi. (2020) WHO THE HELL ARE YOU? Practical Lesson of Personal Branding. Bogor : PT Rumah Tulis.


 

2.     Nobody To Be Somebody
Toha HR

Setelah selesai menjalani langkah pertama dalam memahami diri dan sebagai orang-orang yang tidak mengenal kepuasan, Gen Z tidak boleh berhenti hanya dengan berbekal kesadaran diri atau self awareness. Karena sudah jelas, untuk mencapai tempat yang lebih tinggi pasti dibutuhkan usaha yang lebih keras. Selain itu, tempat yang lebih tinggi selalu diincar oleh lebih banyak orang dan semua akan saling bersaing  dan membuat lawannya menjadi kuno dan tak berharga dengan kelebihan dan kekuatan masing-masing. Oleh karenanya, Gen Z harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik.

Dalam ilmu komunikasi ada sebuah teori yang dikenal dengan penyingkapan diri atau self disclosure. Self disclosure merupakan bentuk komunikasi yang membahas tentang hubungan antar manusia dalam berinteraksi yang meliputi kecerdasan seseorang dalam membuka diri kepada orang lain dalam domain open (terbuka), hidden (tersembunyi), blind (buta) dan unknown (tidak diketahui) sebagai seni intrapersonal dan ekstrapersonal.

Dalam teori Self disclosure terdapat beberapa asumsi-asumsi. Yang pertama bahwa komunikasi dalam suatu masyarakat akan semakin efektif jika sesama masyarakat saling mengenal. Disini Gen Z memiliki keunggulan yang hebat dengan pengetahuan mereka terhadap teknologi digital dan banyaknya media sosial yang dengan mudah menjangkau lingkuangan yang luas. Namun kembali lagi, jika tidak bijak dalam memanfaatkan media tentu jejak media yang ditingalkan akan menjadi buruk dan itu juga sangat mempengaruhi pandangan masyarakat.

Kedua, semakin terbuka dan jujur seseorang dalam berhubungan dalam masyarakat maka kualitas hubungan yang dimiliki semakin baik. Disini kelemahan Gen Z adalah selalu ingin mengikuti trend yang ada. Meski itu tidak selalu buruk namun untuk mereka yang belum memiliki pemahaman diri yang baik, itu akan membuat mereka semakin jauh dari diri mereka sebenarnya. Kejujuran dalam berkomunikasi sangat penting karena dengan itu masyarakat akan selalu mengenal dan mengingwat, karena tidak ada ekesempatan kedua untuk memberi kesan pertama. Dan dengan budaya masyarakat yang sering menilai buku dari sampulnya, maka kesan pertama yang harus masyarakat dapatkan adalah hal terbaik yang kita miliki, baik itu sikap, cara bicara, fashion dan sebagainya.

Ketiga, konteks komunikasi dalam self disclsure itu dibangun dengan memperhatikan empat domain sebagai berikut :

1.      Domain Open, yaitu wilayah dari diri kita yang sudah diketahui oleh diri sendiri dan orang lain, contohnya sifat kerja keras, humble dsb.

2.     Domain Hidden yaitu wilayah yang diketahui oleh diri sendiri dan orang lain tidak mengetahuinya. Hal tersebut kita sembunyikan atau kita rahasiakan sebagai cara untuk mempertahankan citra seperti menyembunyikan kebiasaan buruk atau sesuatu yang dianggap sebagi aib.

3.     Domain Blind yaitu wilayah yang tidak disadari oleh diri sendiri namun diketahui oleh orang lain. Biasanya orang kurang memiliki kesadaran diri akan memiliki domain blind yang cukup luas karena ia kurang memahami dirinya.

4.     Domain Unknown yaitu wilayah yang belum diketahui oleh diri sendiri maupun orang lain. Domain unknown biasanya berupa bakat atau potensi diri seseorang yang belum diketahui sama sekali.

Keempat, jika kita berhubungan dengan orang lain maka kita akan mendapat sebuah feedback. Nah feedback ini adalah suatu tanggapan atau umpan balik dari orang lain yang mereka berikan kepada kita. Semakin baik personal kita, maka semakin baik juga feedback yang kita dapatkan. Dalam self disclosure, feedback yang didapatkan sangat kita membantu dalam meningkatkan pemahaman diri.

Open

èèè

Blind

êêê

î

 

Hidden

(Devensive)

 

Unknown

 

 

Kelima, dengan adanya hubungan yang baik dan feedback terus menerus, tentu itu akan membuat domain open kita akan semakin luas. Disini, domain blind akan terbuka karena feedback yang diterima dalam sebuah hubungan atau interaksi. Kemudian ada juga kemungkinan domain hidden akan mulai kita buka karena hubungan yang semakin intim akan membuat kita merasa bahwa hubungan itu lebih penting daripada prioritas citra diri di hadapan lawan interaksi kita. Dan dengan semakin intensnya hubungan yang baik dan feedback yang didapatkan, kemudian muncullah kemungkinan terbukanya domain unknown yang selama ini tidak dikenal atau belum diketahui.

Nah dengan kelima asumsi self disclosure ini, Gen Z harus memiliki cara atau pandangan yang akan membantunya untuk berhubungan dan berinteraksi di masyarakat. Sebagai Gen Z, kita harus mulai menyadari dan berani untuk meninggalkan zona nyaman dan mulai membuka diri ke masayarakat agar mendapatkan feedback untuk lebih memahami dirinya. Terutama agar mulai mengetahui domain blind dan domain unknown.

Refrensi :

Zaini, Hisyam, dkk. (2014) SUKSES DI PERGURUAN TINGGI. Yogyakarta : CTSD UIN Sunan Kalijaga.

Yahya, Helmi. (2020) WHO THE HELL ARE YOU? Practical Lesson of Personal Branding. Bogor : PT Rumah Tulis.


 

3.     Now, I Am So Special
Toha HR

Setelah kita memiliki pemahaman diri yang mendalam, maka hal terakhir yang harus dilakukan adalah menata diri. Penataan diri atau disebut self regulation adalah suatu kondisi dimana pikiran kita sudah sanggup menata atau mengatur pikiran dan tindakan kita. Menurut Zimmerman, self regulation merupakan proses yang digunakan untuk mengaktifkan dan mempertahankan pikiran, perilaku dan emosi untuk mencapai sebuah tujuan. Sehingga kemampuan individu dalam mengerahkan pengetahuan, informasi, keterampilan dan kemampuan untuk memonitor hal tersebut serta membuat pengukuran atas sebuah kemajuan menjadi sangat penting untuk mencapai sebuah tujuan. Jadi semakin baik kemampuan seseorang dalam menata diri, maka akan sangat berpengaruh pada apa yang ingin dicapainya baik dalam karier, studi, prestasi, kesehatan dan sebagainya.

Dan dalam self regulation, kita harus dapat menata empat hal yaitu :

1.     Tujuan apa yang akan dicapai?

2.     bagaimana mengontrol dan memonitor pikiran dan tindakan untuk mencapai tujuan tersebut?

3.     Evaluasi apa yang harus dilakukan terhadap pikiran dan tindakan yang kurang sesuai? Dan seberapa banyak kita mengadakan evaluasi tersebut agar keputusan yang diambil semakin akurat?

4.     Apakah diperlukan sebuah apresiasi saat berhasil mencapai step tertentu sebagai penguatan diri?

Dan untuk lebih jelas tentang penataan diri, kita harus bijak dalam mengambil pilihan yang menjadi alternatif paling tepat. Bagaimana mengambil sikap, pikiran dan perilaku yang  diambil dapat melihat kegiatan berikut :

Thalib adalah seroang mahasiswa semester 2 di UIN Sunan Kalijaga. Dikarenakan  belum dapat menyesuaikan diri dengan sistem pembelajaran daring, ia mendapat nilai yang kurang baik. Dan dengan pengalaman yang didapat sebelumnya, ia bertekad untuk mendapat nilai yang baik di semua matakuliahnya.

1

Tujuan mendapat nilai yang baik di semua mata kuliah

-        Nilai yang sangat baik, semisal A dan A-

-        Nilai yang cukup baik, semisal A/B dan B+

-        Nilai yang lebih baik dari semester 1, semisal B dan B-

2

Cara mengontrol dan memonitor pikiran, sikap dan perilaku

-        Membuat jadwal buku dan referensi lain terkait mata kuliah yang harus dibaca

-        Menyelesaikan buku dan referensi lain terkait mata kuliah yang harus dibaca

-        Membuat resum dari buku dan referensi lain terkait mata kuliah yang harus dibaca

3

Melakukan evaluasi atas usaha yang sudah dilakukan

-        Apakah buku dan refrensi selesai seusai jadwal

-        Apakah resum yang dibuat berhasil membantu

-        Apakah ada cara lain yang lebih efektif

4

Melakukan apresiasi ketika menyelesaikan step by step

-        Melakukan .... saat selesai membaca buku sesuai jadwal

-        Melakukan .... saat menyelesaikan resum buku

-        Melakukan .... saat selesai membaca buku sebelum jadwal

5

Sikap ketika tujuan telah dicapai

-        Puas dengan hasil yang dicapai dengan usaha yang telah dilakukan

-        Biasa saja karena hasil sesuai dengan usaha yang telah dilakukan

-        Biasa karena telah memiliki tujuan baru yang lebih tinggi

 

Dari hal di atas diketahui bahwa ketika pikiran dan tindakan berada di kontrol yang tepat, maka tujuan yang telah ditentukan bukan lagi hal yang sulit untuk dicapai. Disinilah seseorang dapat disebut memiliki penataan diri yang baik, karena telah berhasi mengontrol pikiran dan tindakan. Bukan dikontrol oleh orang lain dan kondisi disekitarnya. Kemampuan penataan diri pun tidak hanya berpengaruh pada seberapa baik tujuan dicapai, namun juga sangat memotivasi dalam mencapai tujuan yang lebih jauh selanjutnya.

Refrensi :

Zaini, Hisyam, dkk. (2014) SUKSES DI PERGURUAN TINGGI. Yogyakarta : CTSD UIN Sunan Kalijaga.

Yahya, Helmi. (2020) WHO THE HELL ARE YOU? Practical Lesson of Personal Branding. Bogor : PT Rumah Tulis.

Posting Komentar

0 Komentar