Jasmerah adalah judul yang diberikan oleh Kesatuan Aksi atas pidato terakhir Ir. Soekarno pada 17 Agustus 1966. Dalam pidato tersebut Ir. Soekarno menyatakan “Jangan sekali-kali melupakan sejarah!”, sebagai upaya untuk mempertahankan garis politiknya pasca Tragedi Gerakan 30 September 1965. A.H. Nasution, Panglima Besar TNI yang pada tahun 1966 menjabat sebagai ketua MPRS, dalam wawancaranya yang dimuat dalam Majalah D&R tahun 1998 menyatakan bahwa, “dalam pidato itu Presiden menyebutkan antara lain bahwa kita menghadapi tahun gawat, perang saudara dan seterusnya”. Dan disebutkan juga “bahwa MPRS belumlah berposisi sebagai MPR menurut UUD 1945. Posisi MPRS sebenarnya nanti setelah MPR hasil PEMILU terbentuk. Demikian alur sejarah yang membuat kata “Jasmerah” dari Ir. Soekarno sangat terkenal hingga hari ini sebagai upaya pengingat dan upaya penyadaran untuk tidak melupaka latar belakang sejarah Tanah Air Indonesia.
Jasmerah, hingga hari ini kerap sekali digaungkan dalam pidato-pidato politik, orasi kebangsaan, upacara kemerdekaan, hingga ceramah-ceramah keagamaan. Bahkan Gus Muwafiq, seorang mubaligh Nahdlatul Ulama yang ahli dalam bidang sejarah pada 01 Agustus 2022 mengupload video ceramah beliau di You Tube melalui Channel Gus Muwafiq Channel, dalam Acara Haul Simbah K.H. Abdul Fatah dan Simbah K.H. Jamiludin di Gondang, Kaliasem, Watumalang, Wonosobo, Jawa Tengah. Dimana dalam ceramahnya beliau mengkritik fenomena hari ini dimana nama “Joko Tingkir” dijadikan sebagai lirik lagu dangdut, lagu koplo, DJ, hingga Hadroh Kekinian. Dalam akun Instagram @gusmuwafiqchannel, Akun Resmi K.H. Ahmad Muwafiq, tertulis “Menurut Gus Muwafiq dan Gus Dur tentang Joko Tingkir adalah seorang Ulama serta wali, murid dari Sunan Kalijaga..”, dilanjutkan “Tapi anehnya hari ini ada lagu ‘Joko Tingkir Ngombe Dawet’ dimohon untuk pencipta lagu tersebut agar tahu penjelasan tentang siapa sebenarnya Jaka Tingkir dan yg melantunkan tolong dikurangi”. Dalam video ceramah yang diupload di You Tube, Gus Muwafiq menjelaskan silsilah keilmuan dari keturunan Simbah K.H. Abdul Fatah dan Simbah Jamiludin Gondang, yakni K.H Naja Muzadi. Dimana silsilah kelimuan itu melalui K.H. Abdurrahman Chudori Tegalrejo, kemudian melalui Hadratusy-Syaikh Hasyim Asy’ari Tebuireng, dan terus keatas hingga sampai pada Sultan Hadiwijaya, Abdurohman, Joko Tingkir, yang selain bertemu melalui silsilah keilmuan tapi juga silsilah keluarga dari Hadratusy-Syaikh Hasyim Asy’ari.
Kemudian ketika Gus Muwafiq menyebut nama Joko Tingkir, beliau dengan jengkel mengatakan dengan bahasa Jawa “Saya jengkel, ada ‘Joko Tingkir Ngumbe Dawet’, ini siapa yang bikin? Ngawur aja! Besok cari, pokoknya bilangin itu yang bikin (lagu). Ini bukan nama sembarangan ini! Jadi, Joko Tingkir itu Sultan Hadiwijaya, Ayahnya Pangeran Benowo, Menantu Sultan Trenggono, Muridinya Kanjeng Sunan Kalijaga. Ulama besar! Raja besar! Kok bisa, tau-tau bocah (nyanyi) ‘Joko Tingkir Ngumbe Dawet, Jo Dipikir Marai Mumet’. Ini siapa sih? Ini anak kurang kerjaan. Apalagi lagu yang dipakai (itu) ‘Sholatulloh Salamulloh ‘Ala Thoha Rasulillah, Sholatulloh Salamulloh ‘Ala Yaasiin Habibillah, ‘Ala Yaasiin Habibillah’. Kok bisa jadi ‘Joko Tingkir Ngumbe Dawet’. Itu kapan-kapan ya, siapa yang bikin (lagu) kamu bilangin, kamu ingetin ya! ‘Jangan mas! Ngawur aja!’. Lagian Kanjeng Joko Tingkir itu Ulama, ngono yo ojo ngono lah, sembarangan aja. Dikira ‘Joko Tingkir’ itu nama bebas? Dasar ngawur. Lagian kan buktinya sampai sekarang tidak ada anak yang namanya ‘Joko Tingkir’. Joko Tingkir itu nama (orang), Joko Tingkir itu Muridnya Sunan Kalijaga, Sunan Kalijaga itu ngerti carannya jadi manusia (sejati) diajari Sunan Bonang, Sunan Bonang itu diajari Sunan Ampel, Sunan Ampel diajari Syekh Ibrahim Asmoroqondi, nah Syekh Ibrahim Asmoroqondi itu sesuai kehendak Pangeran (Yang Maha Esa), (itu) mengerti caranya jadi manusia (sejati) diajari Syekh Jumadil Kubro, yang di Turgo, yang setiap 10 Suro (10 Muharam) itu saya Haul-i”.
Lagu ini pertama dinyanyikan oleh Tama Halu 008 dan diupload di Facebook oleh akun Muhammad Teguh Jubnando pada 22 Desember 2020, kemudian diupload kembali di You Tube melalui channel ADI KYT CHANNEL satu tahun yang lalu dan akun Instagram @banupratama30. Setelah itu, lagu ini mulai diupload ulang oleh 69 Project melalui channel Uwitz Haheho 1 tahun lalu, dengan genre musik DJ. Adapun viralnya lagu ini dimulai dari video yang diupload oleh Channel Aldi Embrion dengan genre Rock Koplo, kemudian disusul oleh video yang diuplod oleh Channel Angkasa Music Digital dengan penyanyi Dini Kurnia, Yulia Nadiva, dll, kemudian video yang dinyanyikan oleh Cak Percil yang diupload oleh beberapa channel, seperti Percil Music, One Nada Record Official, dll, kemudian ada juga video yang diupload oleh One Lee Music dengan penyanyi Vita Alvia, dan video yang diupload oleh channel berikutnya. Sedangkan di Facebook sebagai media paling awal mengangkat lagu ini, keviralannya dimulai dari video yang diupload oleh akun Nella Lover Hak’e Hak’e pada 6 April 2022, dengan video dari One Lee Music dengan penyanyi Vita Alvia, kemudian disusul oleh akun berikutnya yang berisi video-video Cak Percil. Dan kini video lagu dengan judul “Joko Tingkir Ngumbe Dawet” sudah diupload oleh puluhan akun di Facebook dan Youtube.
Joko Tingkir, atau Abdurrohman, yang bergelar Sultan Hadiwijaya adalah seorang Raja dari Kerajaan Pajang dan Tokoh Besar Sejarah Islam Nusantara yang menurunkan Tokoh Besar Islam Indonesia, yakni Hadratusy-Syaikh Hasyim Asy’ari, Sang Pendiri Jam’iyah Nahdlatul Ulama dan salah satu dari Pahlawan Nasional Indonesia. Dalam ceramah tersebut Gus Muwafiq menjelaskan silsilah keilmuan Hadratusy-Syaikh Hasyim Asy’ari hingga Sultan Hadiwijaya, beliau menyebutkan “(1) Yai Hasyim Asy’ari iku saking (2) Yai Kholil Bangkalan, termasuk (2) Yai Sholeh Semarang Mbah Sholeh Darat. Nah termasuk (2) Mbah Asy’ari, iku pokok wong abahe piyambak, Mbah Asy’ari niku sinaune dateng (3) Mbah Khoiron, Mbah Gareng Ngroto Purwodadi, nah niku sinaune teng (4) Mbah Abdul Wahid Salatiga, sinaune teng (5) Mbah Abdul Halim Boyolali, nah niku sinaune teng (6) Mbah Sufyan, Mbah Sufyan sinaune teng (7) Mbah Jabbar Nglirip, nah Mbah Jabbar Nglirip niku mondok teng nggene (8) Mbah Abdurrohman Lasem, Mbah Sambu, Mbah Sambu mondok teng nggene (9) Mbah Benowo, Mbah Benowo niku mondok teng nggene (10) Sultan Hadiwijaya, utowo Joko Tingkir”. Sedangkan untuk silsilah keluarga itu Hadratusy-Syaikh Muhammad Hasyim bin K.H. Asy’ari bin K.H. Abdul Wahid bin K.H. Abdul Halim, Pangeran Benowo bin Syekh Abdurohman, Joko Tingkir, Sultan Hadiwijaya bin K.H. Abdullah bin K.H. Abdul Aziz bin K.H. Abdul Fatah bin Maulana Ishaq, ayahanda Raden Ainul Yaqin, Sunan Giri.
[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Jangan_Sekali-kali_Meninggalkan_Sejarah
[2] http://adesiboro.weebly.com/ah-nasution.html
[3] youtube.com, diakses pada 07 Agustus 2022, pukul 22.00
[4] youtube.com, diakses pada 078Agustus 2022, pukul 01.00
[5] youtube.com, diakses pada 08 Agustus 2022, pukul 01.30
[6] facebook.com,diakses pada 07 Agustus 2022, pukul 23.30
[7] youtube.com, diakses pada 07 Agustus 2022, pukul 23.40
[8] instagram.com, diakses pada 07 Agustus 2022,pukul 23.50
[9] youtube.com, diakses pada 08 Agustus 2022, pukul 00.25
[10] facebook.com,diakses pada 08 Agustus 2022, pukul 00.35
[11] youtube.com, diakses pada 08 Agustus 2022, pukul 01.50
[12] Mummad Ishom Hadziq, Irsyadus Sari, (Jombang: Maktabah Turots Islami, 1994), hal. 2.
0 Komentar