Oleh : Rida’ul Maghfiroh
Seiring dengan berjalannya waktu perkembangan zaman
sekarang sudah berada pada era revolusi industri 4.0 yaitu dimana perkembangan
teknologi dan informasi pada abad 21 ini telah merubah cara pandang masyarakat
dalam menjalani kehidupannya, dan mengubah sifat pekerjaannya dari sistem
manual menjadi berbasis digital. Tantangan yang paling menjadi perhatian bagi
semua orang pada era ini adalah bagaimana cara untuk dapat mencetak lulusan
yang memiliki kualitas tinggi dan mampu untuk bersaing secara global, dan dapat
menguasi perkembangan teknologi. Maka dari itu peran dan sumbangan dari
pendidikan sangatlah penting dalam mencetak generasi untuk menjawab tantangan
zaman. Selain itu, perkembangan teknologi juga memberikan dampak perubahan pada
makna hubungan sosial yang jauh menjadi lebih dekat tanpa ada terkendala jarak.
Pada era revolusi industri 4.0 ini pengambilan
keputusan bersama, beradaptasi, dan beriniovasi menjadi salah satu aspek yang
sangat penting dalam kehidupan manusia. Maka dari itu, sekolah ditantang untuk
mampu mencetak peserta didik agar memiliki kecakapan dalam berkomunikasi,
berpikir kritis, mampu menggunakan teknologi untuk memecahkan masalah, dan
berinovasi serta memperkaya kemampuaan teknologi untuk menciptakan pengetahuan
baru. Namun, bila masyarakat tidak memiliki pemahaman yang benar tentang era
digital maka dapat membuat mereka salah dalam mempergunakan teknologi digital.
Oleh karenanya, pendidikan adalah aspek yang paling tepat untuk mengatasi
masalah ini.
Berbicara mengenai pendidikan pasti tidak akan
habisnya, karena seiring dengan berjalannya waktu pada era revolusi industri
4.0 menjadikan peradaban semakin maju dan teknologi semakin berkembang, oleh
karena itu tidak menutup kemungkinan bahwasannya pendidikan juga akan terus
mengalami perubahan dalam setiap nafas kehidupan. Pendidikan adalah salah satu
faktor penting pada pembangunan peradaban manusia untuk bangsa dan negara. Maka
dari itu, untuk merealisasikan tujuan dari pendidikan maka dibutuhkan upaya-
upaya dalam melaksanakan pendidikan yang terencana (Fandi Akhmad, 2020: 79).
Setiap orang yang menempuh proses pendidikan pasti menginginkan sebuah keberhasilan
dalam hidupnya, namun keberhasilan tersebut bukan hanya pada akademik saja,
tetapi juga harus mampu memberikan keberhasilannya pada aspek kehidupan dan
moralitas bangsa. Dengan demikian untuk mewujudkan segala cita dan tujuan dari
pendidikan seperti yang telah diuraikan penting bagi para pelaku pendidik untuk
membudayakan literasi pada pendidik sebagai upaya meningkatkan kualitas
pendidik dalam meningkatkan pendidikan era revolusi 4.0.
Budaya literasi merupakan sebuah strategi yang
digunakan dalam menumbuhkan karakter pada setiap individu. Selain itu, guru
sebagai pendidik mempunyai peranan yang penting guna meningkatkan semangat
belajar pada siswanya, oleh karena itu pendidik harus menggunakan pendekatan
yang progesif dan komprehensif, sehingga dapat memotivasi rasa ingin tahu
peserta didik agar dapat berfikir kritis. Dalam mengembangkan pembelajaran,
pendidik haruslah mampu memotivasi siswa agar memiliki minat untuk membaca
buku, karena kegiatan membaca sejalan dengan proses berpikir kritis. Menurut
study “Most Litterd Nation in the World 2016” Indonesia berada di peringkat 60
dari 61 negara berdasarkan tingkat minat baca (Republika, 20 Februari 2018).
Artinya Indonesia menduduki peringkat 2 dari bawah, ini sesuai dengan minat
baca masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,01 persen atau 1: 10.000, namun yang
lebih memprihatinkan angka ini kebalikan dari jumlah pengguna sosial media.
Oleh karena itu, dalam upaya mengembangkan potensi peserta didiknya, pemerintah
telah berupaya memperbaiki sistem pendidikan di era digital untuk meningkatkan
kualitas sumber daya manusianya.
Budaya literasi pada era revolusi 4.0 menjadi hal yang
perlu dibahas oleh seluruh kalangan demi memajukan pendidikan era digital.
Tugas dari pendidikan saat ini melalui proses pembelajarannya bukan hanya
menekankan pada penguatan kompetensi literasi lama, namun juga mengokohkan
penguatan literasi baru. Maka dari itu, pendidik dituntut tidak hanya memahami literasi
lama seperti membaca dan menulis, tetapi di era digital kini ada tiga literasi
yang wajib dikuasi yaitu literasi data, literasi teknologi dan literasi
manusia. Karena tantangan untuk menguasai suatu keahlian di masa depan
sangatlah berat, maka tidak cukup hanya dengan membaca dan menulis, ketiga
literasi tersebut juga wajib diajarkan pada peserta didik.
Referensi
Akhmad, Fandi., “Implementasi
Pendidikan Karakter dalam Konsep Pendidikan Muhammadiyah”. Al- MISBAH Jurnal
Islamic Studies, Vol. 8, No. 2, Oktober 2020, pp. 79-85.
Republika. 20 Februari 2018. “Minat
Baca di Indonesia Disebut Masih Rendah”. [Online]. Tersedia dalam https://www.jawapos.com.
Diakses pada 12 Oktober 2021.
0 Komentar