Hot Posts

6/recent/ticker-posts

Pendidik Dan Budaya Literasi Sebagai Tombak Pendidikan Di Era Revolusi Industri 4.0


 Oleh : Rida’ul Maghfiroh

Seiring dengan berjalannya waktu perkembangan zaman sekarang sudah berada pada era revolusi industri 4.0 yaitu dimana perkembangan teknologi dan informasi pada abad 21 ini telah merubah cara pandang masyarakat dalam menjalani kehidupannya, dan mengubah sifat pekerjaannya dari sistem manual menjadi berbasis digital. Tantangan yang paling menjadi perhatian bagi semua orang pada era ini adalah bagaimana cara untuk dapat mencetak lulusan yang memiliki kualitas tinggi dan mampu untuk bersaing secara global, dan dapat menguasi perkembangan teknologi. Maka dari itu peran dan sumbangan dari pendidikan sangatlah penting dalam mencetak generasi untuk menjawab tantangan zaman. Selain itu, perkembangan teknologi juga memberikan dampak perubahan pada makna hubungan sosial yang jauh menjadi lebih dekat tanpa ada terkendala jarak.

Pada era revolusi industri 4.0 ini pengambilan keputusan bersama, beradaptasi, dan beriniovasi menjadi salah satu aspek yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Maka dari itu, sekolah ditantang untuk mampu mencetak peserta didik agar memiliki kecakapan dalam berkomunikasi, berpikir kritis, mampu menggunakan teknologi untuk memecahkan masalah, dan berinovasi serta memperkaya kemampuaan teknologi untuk menciptakan pengetahuan baru. Namun, bila masyarakat tidak memiliki pemahaman yang benar tentang era digital maka dapat membuat mereka salah dalam mempergunakan teknologi digital. Oleh karenanya, pendidikan adalah aspek yang paling tepat untuk mengatasi masalah ini.

Berbicara mengenai pendidikan pasti tidak akan habisnya, karena seiring dengan berjalannya waktu pada era revolusi industri 4.0 menjadikan peradaban semakin maju dan teknologi semakin berkembang, oleh karena itu tidak menutup kemungkinan bahwasannya pendidikan juga akan terus mengalami perubahan dalam setiap nafas kehidupan. Pendidikan adalah salah satu faktor penting pada pembangunan peradaban manusia untuk bangsa dan negara. Maka dari itu, untuk merealisasikan tujuan dari pendidikan maka dibutuhkan upaya- upaya dalam melaksanakan pendidikan yang terencana (Fandi Akhmad, 2020: 79). Setiap orang yang menempuh proses pendidikan pasti menginginkan sebuah keberhasilan dalam hidupnya, namun keberhasilan tersebut bukan hanya pada akademik saja, tetapi juga harus mampu memberikan keberhasilannya pada aspek kehidupan dan moralitas bangsa. Dengan demikian untuk mewujudkan segala cita dan tujuan dari pendidikan seperti yang telah diuraikan penting bagi para pelaku pendidik untuk membudayakan literasi pada pendidik sebagai upaya meningkatkan kualitas pendidik dalam meningkatkan pendidikan era revolusi 4.0.

Budaya literasi merupakan sebuah strategi yang digunakan dalam menumbuhkan karakter pada setiap individu. Selain itu, guru sebagai pendidik mempunyai peranan yang penting guna meningkatkan semangat belajar pada siswanya, oleh karena itu pendidik harus menggunakan pendekatan yang progesif dan komprehensif, sehingga dapat memotivasi rasa ingin tahu peserta didik agar dapat berfikir kritis. Dalam mengembangkan pembelajaran, pendidik haruslah mampu memotivasi siswa agar memiliki minat untuk membaca buku, karena kegiatan membaca sejalan dengan proses berpikir kritis. Menurut study “Most Litterd Nation in the World 2016” Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara berdasarkan tingkat minat baca (Republika, 20 Februari 2018). Artinya Indonesia menduduki peringkat 2 dari bawah, ini sesuai dengan minat baca masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,01 persen atau 1: 10.000, namun yang lebih memprihatinkan angka ini kebalikan dari jumlah pengguna sosial media. Oleh karena itu, dalam upaya mengembangkan potensi peserta didiknya, pemerintah telah berupaya memperbaiki sistem pendidikan di era digital untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusianya.

Budaya literasi pada era revolusi 4.0 menjadi hal yang perlu dibahas oleh seluruh kalangan demi memajukan pendidikan era digital. Tugas dari pendidikan saat ini melalui proses pembelajarannya bukan hanya menekankan pada penguatan kompetensi literasi lama, namun juga mengokohkan penguatan literasi baru. Maka dari itu, pendidik dituntut tidak hanya memahami literasi lama seperti membaca dan menulis, tetapi di era digital kini ada tiga literasi yang wajib dikuasi yaitu literasi data, literasi teknologi dan literasi manusia. Karena tantangan untuk menguasai suatu keahlian di masa depan sangatlah berat, maka tidak cukup hanya dengan membaca dan menulis, ketiga literasi tersebut juga wajib diajarkan pada peserta didik.

Referensi

Akhmad, Fandi., “Implementasi Pendidikan Karakter dalam Konsep Pendidikan Muhammadiyah”. Al- MISBAH Jurnal Islamic Studies, Vol. 8, No. 2, Oktober 2020, pp. 79-85.

Republika. 20 Februari 2018. “Minat Baca di Indonesia Disebut Masih Rendah”. [Online]. Tersedia dalam https://www.jawapos.com. Diakses pada 12 Oktober 2021.


Posting Komentar

0 Komentar