Indonesia merupakan
negara yang kaya akan perbedaan. Sejatinya Indonesia juga dikenal sebagai
negara yang luas dan sangat menjunjung tinggi nilai budaya, keramahan dan sopan
santunnya. Nilai- nilai budaya tersebut masih sangat kental di lingkungan
masyarakat Indonesia. Namun seiring berjalannya waktu dunia pun mengalami
perubahan yang signifikan. Dari masa ke masa, peradaban manusia terus mengalami
perkembangan khususnya negara Indonesia. Sejalan dengan perkembangan zaman,
Indonesia juga telah banyak mengalami perubahan sehingga menjadikan terkikisnya
nilai- nilai kebudayaan yang dimilikinya.
Adapun hal- hal yang
menjadikan nilai kebudayaan Indonesia menjadi semakin terkikis adalah adanya
sikap ektremisme, sikap radikalisme, fanatisme, banyaknya ujaran kebencian (hate
speech), dan sikap intoleran antar sesama. Hal inilah yang menjadikan
retaknya hubungan antar umat beragama di Indonesia, sehingga menjadi problem
terbesar bagi Negara Indonesia dan harus dicarikan solusi terbaik untuk
menyelesaikannya.
Dari pernyataan tersebut
maka dapat dikatakan bahwa moderasi beragama dapat dijadikan solusi terbaik
untuk mengatasi kemelut yang terjadi pada saat ini. Sehingga tidak akan ada
lagi yang saling mencaci maki, saling mengujar kebencian karena perbedaan
keyakinan dan merasa dirinya paling benar. Moderasi beragama adalah sikap yang
paling ampuh untuk menjadi solusi dalam merespon dinamika zaman ditengah
maraknya sikap intoleran, ekstremisme dan fanatisme yang berlebihan. Hal inilah
yang patut dipahami dan diterapkan oleh genarasi muda sebagai calon pemimpin
bangsa dimasa yang akan datang.
Kemudian, yang menjadi
pertanyaannya adalah apakah generasi muda yaitu kaum milenial dan Gen z telah
memahami tentang moderasi beragama?. Pertanyaan inilah yang akan menyadarkan
para kaum milenial dan juga Gen z tentang pentingnya moderasi beragama di
Indonesia. Sebagai penerus bangsa kita seharusnya dapat memandang, melihat dan
memahami bahwa kedamaian, saling menghormati, saling menghargai pada setiap
perbedaan adalah hal yang indah dan menyejukkan. Karena, sebenarnya setiap
keyakinan dan agama itu mengajari untuk saling berbuat baik satu sama lainnya,
sehingga jika kita sebagai generasi muda memahami akan hal tersebut maka tidak
akan ada lagi perpecahan antar agama di Indonesia.
Kaum milenial ataupun Gen
Z keduanya adalah generasi penerus bangsa. Generasi milenial adalah mereka yang
lahir pada sekitar tahun 1980- 1995 dan tumbuh pada awal penggunaan teknologi komunikasi.
Sedangkan generasi Z ini memang jarang terdengar pada telinga anak muda saat
ini, karena yang lebih popular dikalangan pemuda adalah sebutan anak
milenial. Namun sebenarnya Gen Z ini berbeda dengan generasi milenial, mereka
adalah anak yang lahir pada sekitar tahun 1996- 2010. Mengapa disebut dengan
Gen Z? sebab, mereka adalah generasi multitasking yakni yang dapat
melakukan beberapa pekerjaan di satu waktu, hal ini dikarenakan mereka memiliki
teknis dan pengetahuan teknologi serta internet sejak mereka kecil. Meskipun
terdapat beberapa perbedaan antara kedua generasi ini, namun pada dasarnya
mereka adalah generasi muda calon pemimpin bangsa. Maka dari itu penting bagi
mereka untuk memahami tentang moderasi beragama.
Secara etimologi menurut KBBI
(Kamus Besar Bahasa Indonesia), istilah moderasi ini berasal dari kata
“moderat” yang artinya adalah selalu menghindarkan perilaku atau pengungkapan
yang ekstrem, selain itu moderasi juga bermakna ke arah dimensi atau jalan
tengah. Menurut Quraisy Shihab, istilah moderasi beragama dalam konteks Islam
sulit untuk didefinisikan, sebab istilah ini baru muncul setelah maraknya sikap
radikalisme dan ekstremisme di Indonesia. Jadi makna moderasi yang paling
mendekati dengan istilah Al- Qur’an adalah wasathiyah, yang artinya
adalah pertengahan dari segala sesuatu. Adapun sumber dari Al- Qur’an yang
dijadikan sebagai pondasi dasar sikap moderasi beragama yaitu terdapat dalam
surat Al- Baqarah ayat 143.
Menurut Azyumardi Azra
(Guru besar sejarah Islam), moderasi beragama di Indonesia yang sangat terlihat
adalah umat Islam. Pengertian moderasi beragama dalam konteks umat Islam
kemudian disebut Islam Wasathiyah. Kemudian menurut Lukman Hakim
Saifuddin (Menteri Agama 2014-2019), istilah moderasi beragama harus dipahami
bahwa yang dimoderasi bukan agamanya, melainkan cara kita beragama. Tetapi
ketika agama itu membumi, maka hakikatnya akan menjadi sesuatu yang dipahami
oleh manusia yang terbatas dan relatif. Hal inilah yang kemudian banyak
melahirkan penafsiran yang berbeda- beda. Oleh karena itu, adanya moderasi
beragama adalah suatu keniscayaan agar terhindar dari penafsiran yang
berlebihan dan juga sikap ekstremisme dan intoleran dalam beragama.
Sebagai generasi milenial
dan Gen Z, kita tentu tidak ingin sahabat dan saudara kita terjerumus menjadi
generasi ekstremisme, radikalisme, intoleran dan saling mengujar kebencian
karena perbedaan keyakinan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk sadar akan
pentingnya menanamkan moderasi beragama, agar tidak akan ada lagi generasi yang
tubuh menjadi orang yang tidak dapat menghargai sebuah perbedaan. Kemudian
bagaimana caranya menanamkan moderasi beragama pada mereka?.
Jawabnnya adalah ada tiga
hal yang harus dilakukan oleh generasi milenial dan Gen Z agar dapat menanamkan
moderasi beragama yakni; Pertama, untuk membumikan moderasi beragama maupun
islam moderat ini dapat dilakukan melalui media sosial, sehingga akan lebih
banyak teman- teman kita yang akan mengetahuinya. Kedua, membuat diri lebih
produktif dengan melakukan aktifitas yang positif dalam masyarakat. Ketiga,
untuk meningkatkan pemahaman mengenai moderasi beragama maka perlu adanya
dialog antara generasi milenial dan Gen Z di lingkungan sekolah, keluarga dan
masyarakat.
Dengan ditanamkannya
hal-hal tersebut diharapkan generasi milenial dan Gen Z dapat menumbuhkan sikap
yang lebih positif, percaya diri dan tidak takut salah. Sebab jika bukan kita
siapa lagi? Sudah saat nya kita berani untuk maju membumikan moderasi beragama
pada berbagai kalangan, sehingga tidak akan ada lagi yang menjadi ekstremisme,
intoleran dan radikalisme. Maka, sebagai bagian dari generasi milenial dan Gen
Z marilah kita bersama- sama untuk menjaga kerukunan antar sesama dan
menjunjung tinggi nilai-nilai moderasi beragama serta turut mempertahankan nilai
budaya Indonesia, sehingga kita tidak akan kehilangan identitas kita sebagai
negara yang ramah dan kaya akan keberagaman budaya dan agama.
0 Komentar