Hot Posts

6/recent/ticker-posts

Isra’ Mi’raj Kehidupan Intan


    Intan adalah anak dari keluarga yang kurang mampu. Dari egonya yang begitu besar dank arena status keluarga yang baginya tak bisa menyukupi segala kebutuhannya, dia tumbuh menjadi anak yang minim akhlak. “Ibu, Intan minta uang jajan” ucap Intan pada sang ibu dengan nada yang kurang sopan dan berteriak. Sang ibupun menanggapi dengan kalimat yang halus “Intan, jangan berteriak nak, ibu masih bisa mendengarnya”. “Haduh ibu, jangan kelamaan deh, Intan itu perlu uang bukan omelan ibu” jawab Intan kurang ajar. “Berapa uang yang kamu perlukan Intan ?” Tanya sang ibu.

    “Tidak banyak yang aku mau, aku Cuma minta Rp. 100.000 saja” jawab Intan. “Ya Allah Intan, kalau segitu ibu tidak ada nak” jawab sang ibu. “Duh bagaimana sih bu, Intan itu pengen traktir temen-temen Intan” jawab Intan kurang ajar. “Kamu kan tau nak, penghasilan bapak tidak seberapa Intan, tolonglah kamu mengerti nak” jawab sang ibu. Intan yang merasa tidak akan mendapat uang dari sang ibu pun pergi meninggalkan rumah dengan kondisi yang marah.

    Intan pergi menemui sang pacar di sebuah tongkrongan, nama ayangnya Intan itu Gibran. “Ada apa dengan dirimu sayang ?. Mengapa wajahmu begitu murung dan masam, tidak secantik bisanya ?” ucap Gibran yang mendapati kekasihnya begitu terlihat kesal. Intan pun menjawab pertanyaan si ayang “Itu loh si ibu, dia tak mau memberiku uang”. “Sudahlah canti, tidak usah kau pikirkan. Lebih baik kau enjoy disini” jawab Gibran dengan senyuman manisnya. “Bener juga katamu sayang”.

    Hari semakin larut, tapi Intan belum juga kembali ke rumah. Sang ibu menunggu Intan di depan rumah karena cemas, anak satu-satunya belum pulang ke rumah. Setelah 2 jam menunggu, akhirnya Intan pulang diantar oleh Gibran, yang kemudian berlalu pulang. “Kamu dari mana saja nak ?” Tanya sang ibu. Karena masih merasa kesal dengan kejadian tadi siang, Intan tak menghiraukan ibunya bahkan dia masuk ke kamar kemudian menyalakan musik sekeras mungkin. Wah padahal dah malem loh

    Keesokan paginya, Intan yang akan berangkat kesekolah menuju ke dapur “masak apa ibu ?” Tanya Intan yang baru saja memasuki dapur. “Seperti biasa nak, ada tahu dan tempe, ayo kita makan nak” jawab sang ibu. Intan yang kesal karena setiap hari harus makan dengan lauk tahu dan tempe pun marah kepada sang ibu.  “kenapa hanya tahu dan tempe sih bu ? kapan Intan pandai kalau Cuma makan tahu dan tempe”.

    “Sabar ya nak, nanti kalau bapak punya reeki kita makan ikan dana yam kesukanaa kamu” bukan ibunya yang menjawab namun sang bapak. “Tapi kapan pak, dari dulu bapak selalu bilang seperti itu, bapak hanya bisa janji tanpa bukti, sudah lah, mana uang saku Intan ?. Intan akan makan di sekolah” ucap Indan dengan nada yang sangat kasar. “Bapak Cuma punya ini Intan” sang bapak memberikan uang 10.000 kepada Intan. ”Haduh pak, mana cukup uang sgini mah, bapak pelit banget sih sama Intan” Intan pun mengambil uang dari sang bapak dan pergi ke sekolah.

    Sesampainya di sekolah, Intan langsung menuju ke kantin sekolah. Sampai di kantin, Intan bertemu dengan Ilham dan Gibran yang sedang serius membahas sesuatu, karena penasaran Intan menghampiri nya. “Wah, lagi mbahas apa ini, serius amat ?” tanya Intan. “Ini ntan, kita harus segera menyelesaikan tugas tugas biologi hari ini karena besok harus dikumpulkan” jawab Gibran. “Trus gimana dong ?” Tanya Intan panik. “Niatnya, kita mau ngerjain di perpustakaan sepulang sekolah nanti, gimana menurut kamu ?” jelas Ilham. “Boleh tuh” jawab Intan.

    Sesuai kesepakatan tadi pagi, sepulang sekolah Intan, Gibran dan Ilham pergi keperpustakaan sekolah untuk mengerjakan tugas. Tepat pukul 17.15 WIB, ketiganya telah selesai mengerjakan tugas, dan memilih untuk segera pulang. Intan pulang dengan di bonceng oleh Gibran naik motor. Di perjalanan pulang, karena sudah terdengar suara adzan magrib, Ilham mengajak Gibran dan Intan untuk sholat terlebih dahulu. Namun ajakan Ilham tidak dihiraukan sama sekali.

    Setelah sholat, Ilham melanjutkan perjalanan pulang namun di tengah jalan terlihat gerombolan orang sedang mengelilingi sesuatu. Ternyata terjadi kecelakaan, ternyata itu adalah Intan dan Gibran. Ilham memberanikan diri mendekati Intan dan Gibran, Intan yang diperiksa oleh warga sekitar dia hanya pingsan sedangkan Gibran yang diperiksa oleh Ilham ternyata meninggal di tempat. Intan yang bangun dari pingsan berteriak memanggil nama Gibran.

    Setelah Gibran meninggal, Intan bukan menjadi lebih baik namun menjadi lebih nakal. “Bu Intan minta uang dong” bentak Intan pada sang ibu. “Untuk apa nak ? bukan kah kemarin sudah bapak beri uang?”. Tanya sang ibu. Intan yang ditanya bukannya menjawab melainkan masuk ke kamar sang ibu dan membuka almari ibunya, mengambil perhiasan sang ibu. “kamu mau apa nak ?, buat apa kamu mengambil perhiasan ibu?” Tanya sang ibu dengan nada yang sangat lembut denga berusaha menghalangi Intan membawa perhiasannya. Intan yang dihalangi mendorong sang ibu sampai kepalanya terbentur kursi, dan pergi keluar rumah.

    Intan menjual perhiasan dan menggunakan uangnya untuk bersenang-senang dengan teman-temannya. Tak lamakemudian, Intan mendapat telpon dari Ilham “Intan, segeralah pulang Ibumu meninggal”. Intan yang syok pun sampai menjatuhkan handphonenya, kemudian segera untuk pulang. Sesampainya Intan di rumah dia masih belum percaya bahwa ibunya sudah meninggal pun menggoyangkan tubuh kaku ibunya. “Yang ikhlas Intan, beliau sudah tenang” ucap Ilham. Sosok ibu adalah seseorang yang amat sangat berharga. Surganya seorang anak itu ada pada ibunya. Seorang ibu akan memberikan dunia nya pada sang anak, tak perduli dengan apapun asal anaknya bahagia. Kini Intan kehilangan itu.

    “Sudahlah nak, ikhlaskan ibumu. Berubahlah nak, ibumu sudah sangat sedih dengan sikapmu selama ini, jangan buat dia bertambah sedih karena kamu tak mau berusaha memperbaiki semuanya” ucap sang bapak sambil memeluk Intan. “Masih ada waktu, jadilah anak yang baik nak” tambahnya.

    Setelah kepergian ibunya, Intan semakin dekat dengan Ilham. Ilham selalu memberikan perhatian kepada Intan. Mengajak Intan ke majelis-majelis yang ada. Sampai pada menghadiri pengajian dalam rangka Isra’ Mi’raj yang ada di masjid, Ilham mengutarakan maksud baik nya kepada Intan “Intan, aku ingin mengajakmu berta’aruf, apakah kamu mau berta’aruf dengan diriku ?”. Intan awalnya ragu, dia berfikir bahwa Ilham bisa mendapatkan yang lebih baik dari dirinya. Tapi Ilham laki-laki yang baik, dengan senyum manis nya Intan menjawab “Insyaallah aku bersedia Ilham, semoga kamu tidak menyesal dengan keputusanmu”. “Tidak akan Intan” jawab Ilham dengan penuh keyakinan.

    Untuk menjadi pribadi yang lebih baik bukan lah hal yang mudah, pasi ada saja rintangan yang menghampiri. Begitupun yang dialami oleh Intan, dia bersyukur ada Ilham yang selalu ada dan membimbing dirinya menjadi pribadi yang lebih baik. “Intan, perubahan itu memerlukan waktu, bersabarlah dan jagan mudah lelah” ucap Ilham. “kalau memang begitu, bimbinglah aku ham, untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat bagi orang lain” jawab Intan. “Cinta mengubah kekasaran menjadi kelembutan, mengubah orang tak berpendirian menjadi teguh berpendirian, mengubah pengecut menjadi pemberani, mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan, dan cinta membawa perubahan-perubahan bagi siang dan malam” (Jalaluddin Rumi).

Oleh : Himmayatul Zulva Ilmayani

Posting Komentar

0 Komentar