Hot Posts

6/recent/ticker-posts

ASWAJA : Antara Politik Identitas dan Komitmen Ideologi

   


  Oleh : Toha HR

Ahli Sunnah Wal Jama’ah adalah aliran teologi yang sangat besar yang mengacu pada pemikiran Imam Abu Hasan Al-Asy’ari (260-324 H) dan Imam Abu Manshur Al-Mathuridi (233-333 H). Para pengikut kedua mazhab ini disebut dengan Sunny yang dinisbatkan pada kata sunnah. Hal ini bukan tanpa alasan, karena seperti yang kita ketahui bersama bahwa sesuatu hal telah terjadi pada masa itu dan terus berlanjut hingga sekarang yakni banyaknya golongan, kelompok atau organisasi yang mengaku sebagai ASWAJA. Dan kita bisa melihat politik identitas ini begitu jelas dari slogan yang mereka gunakan. Semisal slogan “kembali pada Al-Qur’an dan Hadis”, slogan anti bid’ah, dan slogan lain yang dapat melabeli masing-masing golongan agar terkesan merekalah pewaris ajaran Nabi Muhammad SAW.

Nah adanya politik identitas ini menimbulkan keresahan dan problematika  di kalangan umat. Apalagi bagi mereka yang pemahamannya terhadap teologi Islam masih awam, pasti akan bertanya, golongan mana yang ajarannya sesuai dengan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW? Atau golongan manakah yang benar-benar masuk dalam kategori ASWAJA? Maka kita perlu mengetahui nilai-nilai Islam secara umum dan juga nilai-nilai ASWAJA. Agar kita bisa mengetahui dan paham bahwa golongan mana yang merupakan ASWAJA.

Adapun ciri ASWAJA yang ada di Indonesia adalah mereka yang dalam dakwahnya berpegang pada hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh sahabat Anas, yaitu "بَشِّرُوْا وَلَاتُنَفِّرُوْا وَيَسِّرُوْا وَلَاتُعَسِّرُوْا" yang berarti“berilah kabar gembira dan jangan kalian membuat orang lari dan permudahlah dan jangan kalian persulit”. Hadits ini merupakan wasiat yang disampaikan Nabi Muhammad SAW kepada sahabat Mu’adz bin Jabal ketika diutus untuk mengajarkan Islam di Yaman. Yang mana harapannya sahabat Mu’adz dapat memberikan ijtihad yang mudah dan sesuai dengan kondisi masyarakat Yaman selama ada dalil dalam Al-Qur’an dan Hadis. Karena dalam pandangan Islam kita memiliki tiga tahap dalam melakukan hubungan dengan sesama yaitu ukhuwah islamiyyah, ukhuwah wathoniyyah dan ukhuwah basyariyyah. Dengan ukhuwah ini, seharusnya kita bisa bersikap dengan baik. Bagaimana sikap kita kepada sesama umat Islam? Bagaimana sikap kita kepada sesama warga negara? Demikian juga sikap kita kepada yang berbeda suku, agama, ras, adat dan sebagainya.

Selain itu, kita pun dapat melihat apakah golongan tersebut konsisten menjalankan nilai-nilai ASWAJA. Nilai itu sendiri meliputi ;

1.   1. Tawasut

Tawasut adalah moderat. Yang mana sebagai penganut ajaran ASWAJA tidak boleh ekstrim baik ke kanan atau ke kiri. Namun saat posisi kita berada di tengah pun tidak boleh tanpa pendirian, karena tidak sedikit orang yang mengambil posisi di tengah karena tidak memiliki pendirian. Bahkan dalil untuk pengamalan nilai ini pun jelas, yaitu "خَيْرُالْاُمُوْرِ اَوْسَطُهَا" yang berarti “sebaik-baiknya perbuatan adalah yang di tengah/ yang moderat”

2.    2. Tasamuh

Tasamuh atau toleran adalah nilai yang menjadi landasan serta bingkai kehidupan sebagai penganut ajaran ASWAJA dalam menghargai perbedaan, tidak memaksakan kehendak dan tidak merasa benar sendiri. Nilai ini pun sangat tepat dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia yang notabenenya terdiri dari berbagai suku, agama, ras dan adat yang beragam. Jadi, tujuan dari toleransi adalah kesadaran akan pluralitas dan keragaman agar bisa saling melengkapi.

3.   3. Tawazun

Tawazun adalah keseimbangan dalam bergaul dan berhubungan, baik kepada Allah atau sesama, secara individu atau kelompok, antara negara dan rakyat, bahkan antara manusia dengan alam sekalipun. Karena jika keseimbangan itu tidak dijaga, pasti akan terjadi ketimpangan yang akan merugikan pihak lain. Jadi, dengan menjaga keseimbangan diharap akan tercipta kedinamisan dalam hidup.

4.   4. Ta’addul/I’tidal

Yang berarti konsisten. Meskipun ada yang memaknai itu dengan keadilan. Konsisten merupakan wujud keteguhan kita dalam menjaga ajaran Islam yang universal, Islam yang mudah, Islam yang terbuka karena Nabi Muhammad SAW pun diutus sebagai rahmat untuk seluruh alam. Maka bersama dengan konsistensi kita dalam menjaga hal ini, kita juga telah memperjuangkan keadilan sosial. Yang mana keadilan sosial ini merupakan wujud totalitas umat Islam dalam mengatur kehidupan, baik politik, ekonomi, budaya, pendidikan dan sebagainya.

Dengan memahami hal ini, kita dapat menyelidiki dan mengetahui golongan, kelompok maupun organisasi mana yang benar-benar konsisten terhadap ideologi ASWAJA bukan sebatas politik identitas semata. Bagaimana cara golongan-golongan itu mengimplementasikan nilai-nilai ke-aswaja-an dalam kehidupan bermasyarakat, dakwah, pendidikan bahkan dalam sebuah perdebatan sekalipun. Karena Nabi Muhammad SAW diutus membawa ajaran Islam tidak terbatas bagi golongan-golongan atau kelompok-kelompok tertentu, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam. Maka, pahami nilai-nilai keislaman dan keaswajaan agar kita tidak salah dalam beragama dan bermasyarakat karena masuk dalam golongan yang salah dalam memahami ajaran Islam.

Posting Komentar

2 Komentar