Hot Posts

6/recent/ticker-posts

Makna Berharga Idul Adha




 Oleh : Himmayatul Zulva Ilmayani

Pagi yang cukup cerah, aku pergi ke pasar memakai masker sesuai protokol kesehatan. Saat membeli sayur, tak sengaja aku berpapasan dengan seorang pria yang tak asing wajahnya. Ketika berbalik badan, dia juga membalikkan badannya. Ternyata benar yang terlintas dalam benakku bahwa dia adalah Ilyas.

"Assalamualaikum. Maaf kamu, Putri kan ?" tanya Ilyas.

"Waalaikumussalam," aku hanya menjawab salamnya dan menganggukkan kepala tersipu malu.

"Apa kabar Put, tidak terasa ya, sudah lama sekali enggak bertemu."

"Alhamdulillah aku baik, Yas. Maaf ya, aku harus pergi soalnya udah ditunggu Ibu," jawabku, meninggalkan Ilyas yang masih berdiri di tempat yang sama.

Sesampainya di rumah, aku membantu Ibu untuk menyiapkan jualan. Waktu berlalu begitu saja, setelah selesai membantu Ibu, aku bersiap-siap untuk pergi bersama Aisyah dalam kegiatan yang akan kami ikuti hari ini. 
Tak berapa lama Aisyah pun datang. Balai desa yang tidak jauh dari rumahku, kini telah ramai dikunjungi oleh orang yang ingin menghadiri kegiatan sharing-sharing terkait idul adha tersebut. Aisyah menarikku untuk duduk di depan, karena sepertinya Aisyah memang benar-benar mengagumi sosok Ilyas yang menjadi pembicara pada saat itu.  
"Put, aku tuh benar-benar suka banget sama Ilyas," ucap Aisyah berbunga-bunga. Aku menatap sekeliling, ternyata banyak sekali yang datang. Walau harus dengan tatanan sesuai aturan jaga jarak tapi sungguh banyak yang datang. Aku kagum dengan kesuksesan Ilyas yang bisa membawa kebaikan di desa.

"Assalamualaikum, selamat sore semuanya. Perkenalkan saya Muhammad Ilyas akan menemani sore kalian semua dengan mengusung tema, Mengingat Idul Adha. Alhamdulillah banyak yang antusias dalam acara sharing kali ini." Ilyas membuka acara dengan santai ala anak jaman sekarang, karena sebagian besar pendengarnya adalah anak muda.

"Sebentar lagi kita akan merayakan hari raya idul adha, di mana sejarahnya dulu Nabi Ibrahim harus merelakan putranya, yaitu Nabi Ismail yang sangat ia cintai untuk disembelih, ikhlas karena melaksanakan perintah Allah SWT. Kemudian Allah menggantikannya dengan domba". Penjelasan awal yang diberikan oleh Ilyas.

"Kegiatan apa aja sih yang dilakukan saat hari raya idul adha? Kegiatan yang dilakukan yaitu melaksanakan sholat id dan menyembelih kambing, domba, sapi, kerbau atau unta. Setelah menyembelih hewan kurban tersebut, daging kurban dibagikan pada banyak orang. Sepertiga dari itu untuk teman juga tetangga, sepertiga untuk fakir miskin serta orang yang membutuhkan," jelas Ilyas dengan semangat.

"Mungkin di sini sudah banyak yang mengerti tentang hari raya idul adha, saya hanya ingin sharing sedikit.  Jadi sekiranya ada yang mau ditanyakan atau mau menambahkan dipersilakan" Ilyas mempersilakan audiens untuk menyampaikan pendapat.

 Aisyah yang dari tadi tak berkedip menatap Ilyas membuatku terkejut dengan pertanyaannya yang spontan, "Mas Ilyas, apa mas sudah menikah?" Seluruh audiens di aula tertawa dengan pertanyaan Aisyah.

Ilyas pun menanggapi pertanyaan Aisyah, " belum Mbak, saya belum menemukan yang tepat.” Betapa bahagianya Aisyah mendengar jawaban tersebut.

 "Mas, maaf mau bertanya. Hari raya idul adha biasanya disebut sebagai hari raya kurban dan hari raya haji, mungkin bisa dijelaskan," pintaku agar suasana lebih kondusif dan tidak pindah pembahasan.

"Hari raya idul adha dinamai Idul kurban, karena pada hari itu Allah memberi kesempatan kepada kita untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Bagi umat muslim yang belum mampu mengerjakan perjalanan haji, maka ia diberi kesempatan untuk berkurban sebagai simbol ketakwaan dan kecintaan kepada Allah SWT. Selain itu, hari raya idul adha juga dikenal dengan sebutan, hari raya haji. Dimana kaum muslimin yang menunaikan haji tengah tawaf juga melakukan rangkaian kegiatan yang cukup padat, mereka memakai pakaian serba putih dan tidak berjahit, yang disebut pakaian ihram, melambangkan persamaan akidah dan pandangan hidup. Semuanya sama-sama mendekatkan diri kepada Allah," Jelas Ilyas memahamkan permintaanku.

Karena sebentar lagi waktu magrib akan tiba, adzan Maghrib juga akan segera terdengar. Acara sharing disudahi.


***

Waktu terus berlalu, semenjak pertemuan kami kembali, kini Ilyas sering mampir ke rumahku dan bertemu dengan Aisyah pula. Sampai suatu hari, Ilyas menyampaikan maksud hatinya untuk memiliki hubungan khusus denganku. Aisyah yang tahu hal tersebut, meminta untuk terus terang tentang perasaanku terhadap Ilyas.

"Aku tidak mencintai Ilyas kok Aisyah. Kamu tenang aja, Ilyas akan selalu jadi milikmu," ucapku meyakinkan.

"Baiklah, aku akan percaya sama kamu, Put. Kamu enggak mungkin mengambil apa yang aku suka, " ucap Aisyah meninggalkan Putri.

Malam terasa begitu dingin, sedingin sikap Aisyah padaku. Saat ini memang aku mulai merasakan kenyamanan pada Ilyas, tetapi tidak mungkin aku bisa mendapatkannya sementara harus melepaskan sahabatku.

"Putri" panggil Ibu, aku mendekat dan memeluknya. "Ibu tahu yang kamu rasakan, tapi ingat Nak, kamu masih harus belajar untuk masa depan. Jujur saja, Ibu belum rela, kalau kamu menjalin hubungan dengan pria manapun. Meski pria itu sangat baik budi pekertinya, tapi ini belum waktunya untuk kamu memikirkan hal seperti itu, Nak. Ingat kata almarhum ayahmu!" ujar Ibu. Kini semakin jelas kalau aku tidak akan bisa mempertahankan rasa ini.

Pagi hari yang indah, karena masih liburan semester aku tidak memiliki tugas. Seperti biasa aku membantu ibu, tapi tiba-tiba saja Ilyas datang ke rumah.

"Assalamualaikum" ucapnya sambil bersalaman dengan Ibu.

"Waalaikumsalam," jawabku dan Ibu.

"Put, aku kesini ingin menanyakan jawaban dari keinginanku yang telah aku sampaikan kepadamu kemarin," ucap Ilyas tanpa basa-basi.

"Masuk ke dalam dulu yuk," ajakku.

"Ilyas, maaf sebelumnya, tapi aku benar-benar belum bisa menerima perasaan yang kamu miliki untukku. Banyak pertimbangan yang aku pikirkan, tapi tolong kamu jangan berubah ya. Tetep jadi Ilyas yang aku kenal," jelasku. Ilyas nampak begitu kecewa tanpa mengucapkan apapun selain salam, ia pergi begitu saja.

Tangisku pilu, melihat orang yang sudah membuatku nyaman pergi. Namun mengikhlaskan demi kebaikan mungkin itulah yang terbaik. Aku ingin menaati perkataan orang tuaku serta tak ingin persahabatanku hancur, semoga setelah ini sikap Aisyah kembali hangat terhadapku.

"Jangan nangis, Nak," ucap Ibu dari pintu. Aku menghapus air mata yang membasahi pipi mungilku.


***

Takbir berkumandang di mana-mana, hari ini adalah hari raya idul adha. Aku bersiap pergi ke mesjid untuk melaksanakan sholat id dengan mematuhi protokol kesehatan. Baru keluar dari rumah, ternyata Aisyah sudah ada di depan pintu. Betapa bahagianya, melihat sahabatku kembali hangat.

"Kamu tidak ingin bertanya kenapa aku begitu antusias?" tanya Aisyah sambil berjalan menuju mesjid.

"Melihatmu sudah kembali seperti dulu aku begitu bahagia, Aisy," jawabku.

"Sejujurnya, aku berterimakasih padamu Put, yang melepas Ilyas untukku."

"Semoga dia yang terbaik untukmu ya" balasku.

Tak terasa sampai di mesjid, banyak sekali kambing dan sapi yang siap untuk dikurbankan. Dalam pikirku semoga tahun depan aku bisa berkurban untuk Ibu. Selesai sholat, aku, Aisyah dan Ilyas mempersiapkan segala bahan untuk membuat sate. Seharian penuh kami habiskan waktu bersama-sama, karena lusa aku harus ke kota untuk bekerja sembari menunggu perkuliahan dimulai.

  "Aisyah, lusa aku akan ke kota. Semoga kalian berdua berjodoh," ucapku. Ilyas yang tidak tahu bahwa Aisyah menyukainya menatapku, aku tersenyum kepadanya.

"Apa sih Put," jawab Aisyah malu-malu.

"Semoga kamu menemukan apa yang kamu cari ya Put, semoga kamu juga sukses, semangat belajar serta semangat untuk segala kegiatan yang kamu lakukan," ucap Aisyah sambil memeluk sahabatnya ini.

"Iya Put, semoga kamu mendapatkan yang terbaik" ucap Ilyas.

Tak terasa, kini aku harus meninggalkan desa demi mencapai masa depan yang lebih baik. Namun, dengan berat hati aku harus meninggalkan ibu sendirian.

"Enggak usah pikirkan Ibu, Nak. Ibu sangat senang jika kesuksesan ada di tanganmu. Jangan tinggalkan ibadah, selalu berdoa untuk kemudahanmu," ucap ibu yang matanya mulai berkaca-kaca. Aku memeluk Ibu serta Aisyah yang memang sedari kemarin sengaja tidak pulang untuk bisa bercanda dan menikmati hari-hari terakhir denganku, sebelum pergi. 
Aku naik ke mobil dan melambaikan tangan dari jendela....


***

Setiap bulannya, Ibu pasti mengirimkan surat. Anehnya, beberapa bulan ini Ibu tidak mengirimkan pesan padaku. Kini aku sudah bisa memenuhi keingananku yaitu membeli hewan kurban untuk Ibu. Satu tahun di kota membuatku menjadi orang yang lebih berpengalaman, hingga aku memilih pulang ke kampung halaman untuk menjenguk Ibu.

Sesampainya di desa, terlihat banyak orang di halaman rumah. Tanpa pikir panjang aku berlari memastikan keadaan Ibu. Yang teringat olehku hanya dia saja dan ternyata benar, Ibu tengah sakit. Aku membawanya ke rumah sakit untuk pengobatan. Begitu khawatirnya aku, pikiran buruk menghantui disebabkan takut kehilangan orang yang dicintai lagi.

Hari ini tepat hari raya idul adha, aku telah membelikan kambing untuk kurban. Tapi setelah sholat id, Ibu menghembuskan nafas terakhirnya. Hatiku hancur berkeping-keping. Aisyah yang menemani semenjak pagi, memeluk erat tubuhku untuk menyemangati.

‘Aku harus ikhlas,’ kataku dalam hati.  Setelah urusan pemakaman semua selesai, aku memutuskan untuk kembali ke kota mewujudkan impian dan berusaha melupakan segala kesedihan yang kualami ini.

Dalam pikirku, ‘ idul adha ini mengajarkan banyak hal yang terikat dalam segala ceritaku ini, terkait pengorbanan, ketaatan kepada orang tua, keikhlasan dalam menerima segala cobaan, ketulusan dalam melaksanakan perintah serta semangat untuk berbagi terhadap sesama. Semoga semua orang bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian yang kualami.’


Pati, 25 Juli 2020








Posting Komentar

1 Komentar

  1. semangat terus sahabati Himmayatul Zulfa Ilmayani, menulis adalah melawan.

    BalasHapus