Oleh
: Himmayatul Zulva Ilmayani
Pagi yang cukup cerah, aku pergi ke pasar
memakai masker sesuai protokol kesehatan. Saat membeli sayur, tak sengaja aku
berpapasan dengan seorang pria yang tak asing wajahnya. Ketika berbalik badan,
dia juga membalikkan badannya. Ternyata benar yang terlintas dalam benakku
bahwa dia adalah Ilyas.
"Assalamualaikum. Maaf kamu, Putri kan
?" tanya Ilyas.
"Waalaikumussalam," aku hanya
menjawab salamnya dan menganggukkan kepala tersipu malu.
"Apa kabar Put, tidak terasa ya, sudah
lama sekali enggak bertemu."
"Alhamdulillah aku baik, Yas. Maaf ya, aku
harus pergi soalnya udah ditunggu Ibu," jawabku, meninggalkan Ilyas yang
masih berdiri di tempat yang sama.
Sesampainya di rumah, aku membantu Ibu untuk
menyiapkan jualan. Waktu berlalu begitu saja, setelah selesai membantu Ibu, aku
bersiap-siap untuk pergi bersama Aisyah dalam kegiatan yang akan kami ikuti
hari ini.
Tak berapa lama Aisyah pun datang. Balai
desa yang tidak jauh dari rumahku, kini telah ramai dikunjungi oleh orang yang
ingin menghadiri kegiatan sharing-sharing terkait idul adha tersebut. Aisyah
menarikku untuk duduk di depan, karena sepertinya Aisyah memang benar-benar
mengagumi sosok Ilyas yang menjadi pembicara pada saat itu.
"Put, aku tuh benar-benar suka banget sama
Ilyas," ucap Aisyah berbunga-bunga. Aku menatap sekeliling, ternyata
banyak sekali yang datang. Walau harus dengan tatanan sesuai aturan jaga jarak
tapi sungguh banyak yang datang. Aku kagum dengan kesuksesan Ilyas yang bisa
membawa kebaikan di desa.
"Assalamualaikum, selamat sore semuanya.
Perkenalkan saya Muhammad Ilyas akan menemani sore kalian semua dengan
mengusung tema, Mengingat Idul Adha. Alhamdulillah banyak yang antusias dalam
acara sharing kali ini." Ilyas membuka acara dengan santai ala anak jaman
sekarang, karena sebagian besar pendengarnya adalah anak muda.
"Sebentar lagi kita akan merayakan hari
raya idul adha, di mana sejarahnya dulu Nabi Ibrahim harus merelakan putranya,
yaitu Nabi Ismail yang sangat ia cintai untuk disembelih, ikhlas karena
melaksanakan perintah Allah SWT. Kemudian Allah menggantikannya dengan
domba". Penjelasan awal yang diberikan oleh Ilyas.
"Kegiatan apa aja sih yang dilakukan saat
hari raya idul adha? Kegiatan yang dilakukan yaitu melaksanakan sholat id dan
menyembelih kambing, domba, sapi, kerbau atau unta. Setelah menyembelih hewan
kurban tersebut, daging kurban dibagikan pada banyak orang. Sepertiga dari itu
untuk teman juga tetangga, sepertiga untuk fakir miskin serta orang yang
membutuhkan," jelas Ilyas dengan semangat.
"Mungkin di sini sudah banyak yang
mengerti tentang hari raya idul adha, saya hanya ingin sharing sedikit. Jadi
sekiranya ada yang mau ditanyakan atau mau menambahkan dipersilakan" Ilyas
mempersilakan audiens untuk menyampaikan pendapat.
Aisyah yang dari tadi tak berkedip
menatap Ilyas membuatku terkejut dengan pertanyaannya yang spontan, "Mas
Ilyas, apa mas sudah menikah?" Seluruh audiens di aula
tertawa dengan pertanyaan Aisyah.
Ilyas pun menanggapi pertanyaan Aisyah, "
belum Mbak, saya belum menemukan yang tepat.” Betapa bahagianya Aisyah
mendengar jawaban tersebut.
"Mas, maaf mau bertanya. Hari raya
idul adha biasanya disebut sebagai hari raya kurban dan hari raya haji, mungkin
bisa dijelaskan," pintaku agar suasana lebih kondusif dan tidak pindah
pembahasan.
"Hari raya idul adha dinamai Idul kurban,
karena pada hari itu Allah memberi kesempatan kepada kita untuk lebih
mendekatkan diri kepada-Nya. Bagi umat muslim yang belum mampu mengerjakan
perjalanan haji, maka ia diberi kesempatan untuk berkurban sebagai simbol
ketakwaan dan kecintaan kepada Allah SWT. Selain itu, hari raya idul adha juga
dikenal dengan sebutan, hari raya haji. Dimana kaum muslimin yang menunaikan
haji tengah tawaf juga melakukan rangkaian kegiatan yang cukup padat, mereka
memakai pakaian serba putih dan tidak berjahit, yang disebut pakaian
ihram, melambangkan persamaan akidah dan pandangan hidup. Semuanya
sama-sama mendekatkan diri kepada Allah," Jelas Ilyas memahamkan
permintaanku.
Karena sebentar lagi waktu magrib akan tiba,
adzan Maghrib juga akan segera terdengar. Acara sharing disudahi.
***
Waktu terus berlalu, semenjak pertemuan kami
kembali, kini Ilyas sering mampir ke rumahku dan bertemu dengan Aisyah pula.
Sampai suatu hari, Ilyas menyampaikan maksud hatinya untuk memiliki hubungan
khusus denganku. Aisyah yang tahu hal tersebut, meminta untuk terus terang
tentang perasaanku terhadap Ilyas.
"Aku tidak mencintai Ilyas kok Aisyah.
Kamu tenang aja, Ilyas akan selalu jadi milikmu," ucapku meyakinkan.
"Baiklah, aku akan percaya sama kamu, Put.
Kamu enggak mungkin mengambil apa yang aku suka, " ucap Aisyah
meninggalkan Putri.
Malam terasa begitu dingin, sedingin sikap
Aisyah padaku. Saat ini memang aku mulai merasakan kenyamanan pada Ilyas,
tetapi tidak mungkin aku bisa mendapatkannya sementara harus melepaskan
sahabatku.
"Putri" panggil Ibu, aku mendekat dan
memeluknya. "Ibu tahu yang kamu rasakan, tapi ingat Nak, kamu masih harus
belajar untuk masa depan. Jujur saja, Ibu belum rela, kalau kamu menjalin hubungan
dengan pria manapun. Meski pria itu sangat baik budi pekertinya, tapi ini belum
waktunya untuk kamu memikirkan hal seperti itu, Nak. Ingat kata almarhum
ayahmu!" ujar Ibu. Kini semakin jelas kalau aku tidak akan bisa
mempertahankan rasa ini.
Pagi hari yang indah, karena masih liburan
semester aku tidak memiliki tugas. Seperti biasa aku membantu ibu, tapi
tiba-tiba saja Ilyas datang ke rumah.
"Assalamualaikum" ucapnya sambil
bersalaman dengan Ibu.
"Waalaikumsalam," jawabku dan Ibu.
"Put, aku kesini ingin menanyakan jawaban
dari keinginanku yang telah aku sampaikan kepadamu kemarin," ucap Ilyas
tanpa basa-basi.
"Masuk ke dalam dulu yuk," ajakku.
"Ilyas, maaf sebelumnya, tapi aku
benar-benar belum bisa menerima perasaan yang kamu miliki untukku. Banyak
pertimbangan yang aku pikirkan, tapi tolong kamu jangan berubah ya. Tetep jadi
Ilyas yang aku kenal," jelasku. Ilyas nampak begitu kecewa tanpa
mengucapkan apapun selain salam, ia pergi begitu saja.
Tangisku pilu, melihat orang yang sudah
membuatku nyaman pergi. Namun mengikhlaskan demi kebaikan mungkin itulah yang
terbaik. Aku ingin menaati perkataan orang tuaku serta tak ingin persahabatanku
hancur, semoga setelah ini sikap Aisyah kembali hangat terhadapku.
"Jangan nangis, Nak," ucap Ibu dari
pintu. Aku menghapus air mata yang membasahi pipi mungilku.
***
Takbir berkumandang di mana-mana, hari ini
adalah hari raya idul adha. Aku bersiap pergi ke mesjid untuk melaksanakan
sholat id dengan mematuhi protokol kesehatan. Baru keluar dari rumah, ternyata
Aisyah sudah ada di depan pintu. Betapa bahagianya, melihat sahabatku kembali
hangat.
"Kamu tidak ingin bertanya kenapa aku
begitu antusias?" tanya Aisyah sambil berjalan menuju mesjid.
"Melihatmu sudah kembali seperti dulu aku
begitu bahagia, Aisy," jawabku.
"Sejujurnya, aku berterimakasih padamu
Put, yang melepas Ilyas untukku."
"Semoga dia yang terbaik untukmu ya"
balasku.
Tak terasa sampai di mesjid, banyak sekali
kambing dan sapi yang siap untuk dikurbankan. Dalam pikirku semoga tahun depan
aku bisa berkurban untuk Ibu. Selesai sholat, aku, Aisyah dan Ilyas
mempersiapkan segala bahan untuk membuat sate. Seharian penuh kami habiskan
waktu bersama-sama, karena lusa aku harus ke kota untuk bekerja sembari
menunggu perkuliahan dimulai.
"Aisyah, lusa aku akan ke
kota. Semoga kalian berdua berjodoh," ucapku. Ilyas yang tidak tahu bahwa
Aisyah menyukainya menatapku, aku tersenyum kepadanya.
"Apa sih Put," jawab Aisyah malu-malu.
"Semoga kamu menemukan apa yang kamu cari
ya Put, semoga kamu juga sukses, semangat belajar serta semangat untuk segala
kegiatan yang kamu lakukan," ucap Aisyah sambil memeluk sahabatnya ini.
"Iya Put, semoga kamu mendapatkan yang
terbaik" ucap Ilyas.
Tak terasa, kini aku harus meninggalkan desa
demi mencapai masa depan yang lebih baik. Namun, dengan berat hati aku harus
meninggalkan ibu sendirian.
"Enggak usah pikirkan Ibu, Nak. Ibu sangat
senang jika kesuksesan ada di tanganmu. Jangan tinggalkan ibadah, selalu berdoa
untuk kemudahanmu," ucap ibu yang matanya mulai berkaca-kaca. Aku memeluk
Ibu serta Aisyah yang memang sedari kemarin sengaja tidak pulang untuk bisa
bercanda dan menikmati hari-hari terakhir denganku, sebelum pergi.
Aku naik ke mobil dan melambaikan tangan dari
jendela....
***
Setiap bulannya, Ibu pasti mengirimkan surat.
Anehnya, beberapa bulan ini Ibu tidak mengirimkan pesan padaku. Kini aku sudah
bisa memenuhi keingananku yaitu membeli hewan kurban untuk Ibu. Satu tahun di
kota membuatku menjadi orang yang lebih berpengalaman, hingga aku memilih
pulang ke kampung halaman untuk menjenguk Ibu.
Sesampainya di desa, terlihat banyak orang di
halaman rumah. Tanpa pikir panjang aku berlari memastikan keadaan Ibu. Yang teringat
olehku hanya dia saja dan ternyata benar, Ibu tengah sakit. Aku membawanya ke
rumah sakit untuk pengobatan. Begitu khawatirnya aku, pikiran buruk menghantui
disebabkan takut kehilangan orang yang dicintai lagi.
Hari ini tepat hari raya idul adha, aku telah
membelikan kambing untuk kurban. Tapi setelah sholat id, Ibu menghembuskan
nafas terakhirnya. Hatiku hancur berkeping-keping. Aisyah yang menemani
semenjak pagi, memeluk erat tubuhku untuk menyemangati.
‘Aku harus ikhlas,’ kataku dalam hati. Setelah
urusan pemakaman semua selesai, aku memutuskan untuk kembali ke kota mewujudkan
impian dan berusaha melupakan segala kesedihan yang kualami ini.
Dalam pikirku, ‘ idul adha ini mengajarkan
banyak hal yang terikat dalam segala ceritaku ini, terkait pengorbanan,
ketaatan kepada orang tua, keikhlasan dalam menerima segala cobaan, ketulusan
dalam melaksanakan perintah serta semangat untuk berbagi terhadap sesama.
Semoga semua orang bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian yang kualami.’
Pati, 25 Juli 2020
1 Komentar
semangat terus sahabati Himmayatul Zulfa Ilmayani, menulis adalah melawan.
BalasHapus