Oleh: A.R
Senja telah berganti dengan sinar mentari
pagi
Sejak malam datang …Takbir telah menggema
tiada henti
Hingga terdengar di seantero negeri
Semuanya terlihat gembira
Tanda idul adha telah tiba
Langkah kaki mulai terdengar serempak
Menuju rumah Sang Pencipta
Terlihat sajadah juga karpet bergelar di
atas jalan
Walaupun dingin menusuk jiwa jua raga
Namun semua dilakukan demi mendapatkan ridha
dari Nya
Tumbang…
Merahnya darah telah tumpah
Mengalir di atas tanah
Satu demi satu terjatuh tanpa daya
Lalu mulai kutulis sajak cerita
Aku bertanya…
Apa makna semuanya?
Adakah kesamaan antara pengorbanannya
Dengan pengorbanaan Ismail dahulu?
Atau itu hanya simbolis belaka?
Sungguh Ismail kecil rela korbankan diri
demi sang Ilahi
Apakah kita mampu mengorbankan segalanya
Jika itu perintah agama?
Apakah kita kan jalankan segalanya
Jika itu perintah yang Maha Kuasa?
Lagi-lagi aku bertanya …
Apakah kita kan Tinggalkan
Jika itu larangan yang Kuasa?
Bagaimana sekarang dengan kita?
Yogyakarta, 23 Juli 2020
2 Komentar
Top puisinya......
BalasHapustidak.
BalasHapusmanusia tidak akan pernah menolak kata.
suara.
mungkin saja.
semangat terus, A.R.
kamu adalah kamu. tapi kamu bisa belajar dari siapapun.