LSOR Nawa Aksara PMII Rayon Wisma Tradisi kian menampakkan kader- kader terbaiknya dalam bidang karya tulis. Bagaimana tidak ? Dua kader diantaranya telah berhasil menerbitkan buku secara mandiri. Karya pertama terbit pada 12/12/2019, Jihan Ariqatur Rafiah kader perempuan dari Korp Sakti berhasil menerbitkan karyanya berupa buku cerpen yang berjudul “ Cinta Di balik Bait- Bait Alfiyyah”. Ia menerbitkan cerpen ini di penerbit Semesta Aksara yang terinspirasi dari pengalaman bersama rekannya sejak berjuang bersama di lingkungan pesantren salafiah syafi’iyah Situbondo dalam mempelajari kitab Alfiyyah.
Karya kedua datang dari kader korp Keris, Windi Novrianti yang menerbitkan novel pertamanya dengan judul “ Jeruji Secarik Kertas”. Buku karyanya ini terbit pada hari Minggu tanggal 15 Desember 2019, berangkat dari harapan bagi diri dan lingkungannya yaitu memakmurkan warga desanya dengan pendidikan dan keterbukaan atas ilmu pengetahuan menjadi tumpuan bagi seorang Windi untuk menuliskannya. Tentunya tak sedikit perjuangan dan pengorbanan dari kedua kader ini untuk menerbitkan karya mereka.
Ditambah dengan kebahagiaan dan kebanggaan yang bertubi-tubi bagi Rayon Wisma Tradisi, mengingat sebelumnya 3 kader perempuannya berhasil memenangkan beberapa cabang lomba yang diadakan oleh KOPRI Komisariat Pondok Sahabat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam rangka memeriahkan harlah KOPRI ke 52 yang jatuh pada tanggal (25/11/2019). Mereka adalah: Habibah Ella Tasya kader Korp Keris berhasil meraih juara 2 cabang lomba artikel, ia mengangkat judul “ Reposisi Perempuan Domestik atau Publik, Perempuan Bisa Segalanya!”. Kader dari Korp Sakti Himmayatul Zulfa Ilmayani berhasil meraih juara 2 cabang lomba cerpen dengan judul “ Tekad Baja Semua Bisa “ dan juga Savika Pulung Iswari dari Korp Dinamit meraih juara 2 cabang lomba puisi dengan judul “ Perempuan dan Lima Jalan Bernama Macapat”.
Ditemui diwaktu perkuliahan Savika selaku koordinator dari LSOR Nawa Aksara sendiri mengucapkan kebanggaannya kepada kader-kader yang telah menuai prestasi terutama dalam bidang kepenulisan. Tidak sampai disitu Savika juga menyampaikan pesannya untuk jangan pernah berhenti menulis, sebab pena yang sungguh adalah bagian dari perlawanan.
Salam Pergerakan !
-Wi
1 Komentar
mantab...lanjutkan 👍👍
BalasHapus