Hot Posts

6/recent/ticker-posts

NU BISA APA ?




(oleh : Andi Saputra)
Beragama merupakan sebuah keharusan yang harus ditempuh oleh setiap insan, dalam rangka mengenal siapa dirinya dan siapakah Tuhannya. Seseorang yang tidak beragama maka di dalam hatinya pasti terdapat sebuah percikan kata yang timbul, merasa tidak memiliki sebuah tujuan akhir, dikarenkan hanya terpuaskan dengan kehidupan dunia semata. Itulah betapa pentingnya sebuah agama ada dalam hidup dan berkehidupan seorang insan. Bila seseorang melakukan sebuah kesalahan, menerima kesenangan dan kebahagiaan, maka mereka akan selalu ingat kepada sang penciptanya. Dan adapun tempat yang digunakan untuk menyampaikan perasaan tersebut adalah melalui beragama. Dengan beragama maka mereka mengakui bahwa dirinya tidak mempunyai apa-apa, semua diberikan oleh sang pencipta.
Tidak dipungkiri bahwa Agama Islam adalah agama yang memiliki kurikulum pengajaran yang dahsyat. Lemah-lembut, menerima perbedaan, dan menjaga kerukunan merupakan sebuah tonggak berkehidupan baik yang ada dalam kurikulum pengajarannya. Namun sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Nabi, bahwa setiap golongan yang ada itu akan terpecah menjadi beberapa golongan, maka demikian pula dengan Umat Islam, yang kemudian terpecah menjadi  73 golongan. Masing-masing golongan memeiliki sebuah pemahaman dan perbedaan pemikiran. Namun sungguh mengherankan bagi saya bahwa dari sekian banyak golongan tersebut hanya satu saja yang disabdakan oleh Nabi sebagai golongan yang selamat. Siapakah golongan yang dimaksud Nabi tersebut? Ya, merekalah golongan yang tetap memegang teguh sunah-sunah Nabi dan selalu merapatkan (berjamaah) dalam kehidupannya (baca: Aswaja). Golongan Aswaja mampu menjadi sebuah “jalan” yang membawa perdamaain dan ketentraman di tengah sengitnya perbedaan.
Pentingnya mendirikan organisasi Aswaja (NU ) di tahun 1926 juga berkaca dari sejarah “berdarah” Syarif Hussein, seorang pemimpin berakidah Ahlussunnah wal Jama’ah yang juga masih dzurriyyah Nabi Saw, amir wilayah Hijaz (Makkah dan Madinah) yang terbunuh dalam insiden penyerbuan yang dilakukan golongan Wahabi serta keluarga Ibnu Saud. Sejak dikuasainya wilayah Hijaz, kelompok Wahabi melakukan perombakan besar-besaran dalam berbagai bidang keagamaan di sana. Kebebasan bermadzhab dihilangkan, segala hal yang “mereka anggap” sebagai bidah thughut dan khurofat dilarang, bahkan makam baginda Nabi sempat terancam akan diratakan. Kelompok ini juga yang bertanggung jawab atas pengahncuran besar-besaran makam-makam para Sahabat termasuk Ahlu Bait Nabi di Makkah dan Madinah. Hal tersebut diungkapkan oleh Al Habib Luthfi bin Yahya, bahwasanya Syarif Hussein dengan kedudukan dan Aswajanya nyatanya tidak memiliki kekuatan. Kenapa? Ternyata yang menjadi sebab adalah pada masa Syarif Hussein Aswaja belum sempat dibuatkan wadah (an-Nidhom/organisasi). Tidak adaanya nidhom menjadikan tak terorganisirnya golongan Aswaja yang pada akhirnya membuat Aswaja mudah untuk dihancurkan. Hal ini yang kemudian yang menimbulkan kekhawatiran di kalangan kiyai pesantren sehingga melahirkan komite hijaz guna menghadap pengusasa hijaz terkait berbagai problem di atas. Komite hijaz inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya NU.
Lalu bagaimana dengan di Indonesia? Di Indonesia, ya Indonesia merupakan negara yang memiliki penduduk beragama muslim terbesar didunia pada masa sekarang. Dengan memiliki berbagai macam suku, ras, kebudayaan dan juga tradisi yang berbeda semua itu tidak bisa terpungkiri karena semua itu sebuah fakta. Namun ketika diamati, dilihat dan berkacamata pada negara yang mayoritas penduduknya beragama islam, mereka saling menyalaahkan satu dengan yang lainya, dan akhirnya akan menimbulkan perpecahaan dalam internal negaranya, begitu juga sunni yang ada.
Berbeda dengan Indonesia walapun berbeda – beda, tetap menjadi sebuah kesatuan yang saling mengikat. Hal tersebut dikarenakan mayoritas penduduk muslim Indonesia mengikuti golongan ahlussunnah wal jama’ah. Ahlussunah wal jama’ah yang ada di Indonesia nampaknya berbeda dengan ahlussunah di negara lain. Dikarenakan ahlussunnah yang ada diinonesia tetap mempertahankan tradisi kebudayaan asli Indonesia, sehingga tidak ada suatu pertikaian dikarenakan islam masuk secara damai tanpa mengubah budaya lama. Seperti halnya yang di uangkapkan oleh Habib Luthfi bin Yahya bila tidak adanya sebuah wadah untuk aswaja maka akan hancur karena tidak ada kekuatan yang menjadikan untuk tetap bertahan.
Dan Indonesia memiliki nidhom tersebut yakni Nahdlatul Ulama, Nahdlatul ulama memiliki sebuah peranan yang bersar dalam mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia. Dan Nahdlotul Ulamalah yang sekarang masih tetap mempertahankan tradisi keislaman ala Indonesia asli (asli dari bangsa Indonesia). NU memiliki tanggung jawab penuh untuk merawat tradisi dari leluhur yakni walisongo sebagai penyebar islam, memiliki kelembutan dan sikap ramah tamah terhadap pribumi Indonesia. Berangkat dari situlah NU memiliki sebuah landasan beragama berdasarkan sikap Tasamuh, Tawazun, Ta’adul, dan ta’awun. Ke-empat itulah jadi sebuah tonggak berkehidupan Ahlussunah Wal Jamaah Annahdliyyah.
Sejak dari pertama didirikan pada 31 januari 1926 M / 16 Rojab 1344 H, peran yang dimainkan NU sangat luar biasa hingga sampai hari ini tepat pada 31 jannuari 2019, merupakan ulang tahun NU ke-93 secara hitungan umur NU lebih tua dari kemerdekaan Indonesia. Itu artinya NU juga ikut berperan dalam mempertahankan, dan berjuang untuk bangsa Indonesia hingga saat ini. Indonesia besar  dan tidak terpecah belah juga di jaga oleh NU, Warga nahdiyah siap untuk mati memperthankan bangsa Indonesia, siapa yang merongrong bagsa Indonesia dan pancasila maka NU akan siap tampil sebagai garda terdepan dalam memebrantas golongan tersebut. Ansor, dan organisasi saypnya, Barisan Serba Guna (BANSER) serta para pemuda aktivis dan seluruh banom  yang dimiliki oleh NU sampai detik ini terus memberikan kontribusi penuh kepada bangsa Indonesia.
Dalam hal keperempuanan terdapat ibu-ibu muslimat sebagai sebuah tempat merawat dan mendidik anak-anak agar menjadi orang yang mencintai tanah airnya. Juga telah telah berkontribusi dari hal pendidikan anak usia dini dan masih banyak lagi peran para Mslimat Nu untuk Indonesia. Begitu juga para pemuda perempuan terdapat Fatayat NU dalam hal pendidikan terdapat IPNU dan IPPNU. Dalam bidang sosial ada LAZIZNU, NU CARE, hal ini membuktikan bahwa NU bukan tidak bisa apa-apa, justru NU terus bergerak disemua bidang demi membangun peradapad dengan landasan “ Merawat tradisi terdahulu dan mengambil perkara baik yang baru”.
Namun pada akhir-akhir ini banyak yang menfitnah dan menebar kebencian terhadap NU, tidak menyukai dan suka menganggap  salah NU. Akan tetapi NU menyikapinya dengan sangat rapi, karena bila terburu maka akan menjadikan langkah fatal dikarenakan semua yang dikatakan dan dialakukan oleh warga NU selalu di salah artikan. Dengan bertambahnya umur NU akan senatiasa sangat dewasa dan mampu untuk mewujudkan khitah NU oleh Mbah Hasyim ‘Asy’ari. Dan NU akan tetap menjaga para ulama’ Nusantara dan menyebarkan paham ahlussunnah annahdiyah lewat Islam Nusantara nya.
Selamat harlah NU ke-93 tahun  31 januari 2019/31 januari 1926 
Merawat Tradisi Membangun Peradaban
Lewat Para Kyai, Ulama Dan Santri
Untuk Menjaga Negeri.


Posting Komentar

0 Komentar