(oleh : Andi Saputra)
Beragama merupakan sebuah keharusan yang harus ditempuh oleh setiap
insan, dalam rangka mengenal siapa dirinya dan siapakah Tuhannya. Seseorang
yang tidak beragama maka di dalam hatinya pasti terdapat sebuah percikan kata
yang timbul, merasa tidak memiliki sebuah tujuan akhir, dikarenkan hanya
terpuaskan dengan kehidupan dunia semata. Itulah betapa pentingnya sebuah agama
ada dalam hidup dan berkehidupan seorang insan. Bila seseorang melakukan sebuah
kesalahan, menerima kesenangan dan kebahagiaan, maka mereka akan selalu ingat kepada
sang penciptanya. Dan adapun tempat yang digunakan untuk menyampaikan perasaan
tersebut adalah melalui beragama. Dengan beragama maka mereka mengakui bahwa
dirinya tidak mempunyai apa-apa, semua diberikan oleh sang pencipta.
Tidak dipungkiri bahwa Agama Islam adalah agama yang memiliki
kurikulum pengajaran yang dahsyat. Lemah-lembut, menerima perbedaan, dan
menjaga kerukunan merupakan sebuah tonggak berkehidupan baik yang ada dalam
kurikulum pengajarannya. Namun sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Nabi, bahwa
setiap golongan yang ada itu akan terpecah menjadi beberapa golongan, maka
demikian pula dengan Umat Islam, yang kemudian terpecah menjadi 73 golongan. Masing-masing golongan memeiliki
sebuah pemahaman dan perbedaan pemikiran. Namun sungguh mengherankan bagi saya
bahwa dari sekian banyak golongan tersebut hanya satu saja yang disabdakan oleh
Nabi sebagai golongan yang selamat. Siapakah golongan yang dimaksud Nabi
tersebut? Ya, merekalah golongan yang tetap memegang teguh sunah-sunah Nabi dan
selalu merapatkan (berjamaah) dalam kehidupannya (baca: Aswaja). Golongan Aswaja
mampu menjadi sebuah “jalan” yang membawa perdamaain dan ketentraman di tengah
sengitnya perbedaan.
Pentingnya mendirikan organisasi Aswaja (NU ) di tahun 1926 juga berkaca
dari sejarah “berdarah” Syarif Hussein, seorang pemimpin berakidah Ahlussunnah
wal Jama’ah yang juga masih dzurriyyah Nabi Saw, amir wilayah Hijaz (Makkah dan
Madinah) yang terbunuh dalam insiden penyerbuan yang dilakukan golongan Wahabi serta
keluarga Ibnu Saud. Sejak dikuasainya wilayah Hijaz, kelompok Wahabi melakukan
perombakan besar-besaran dalam berbagai bidang keagamaan di sana. Kebebasan
bermadzhab dihilangkan, segala hal yang “mereka anggap” sebagai bidah thughut
dan khurofat dilarang, bahkan makam baginda Nabi sempat terancam akan diratakan.
Kelompok ini juga yang bertanggung jawab atas pengahncuran besar-besaran
makam-makam para Sahabat termasuk Ahlu Bait Nabi di Makkah dan Madinah. Hal
tersebut diungkapkan oleh Al Habib Luthfi bin Yahya, bahwasanya Syarif Hussein
dengan kedudukan dan Aswajanya nyatanya tidak memiliki kekuatan. Kenapa? Ternyata
yang menjadi sebab adalah pada masa Syarif Hussein Aswaja belum sempat
dibuatkan wadah (an-Nidhom/organisasi). Tidak adaanya nidhom
menjadikan tak terorganisirnya golongan Aswaja yang pada akhirnya membuat Aswaja
mudah untuk dihancurkan. Hal ini yang kemudian yang menimbulkan kekhawatiran di
kalangan kiyai pesantren sehingga melahirkan komite hijaz guna menghadap
pengusasa hijaz terkait berbagai problem di atas. Komite hijaz inilah yang
menjadi cikal bakal lahirnya NU.
Lalu bagaimana dengan di Indonesia? Di Indonesia, ya Indonesia
merupakan negara yang memiliki penduduk beragama muslim terbesar didunia pada
masa sekarang. Dengan memiliki berbagai macam suku, ras, kebudayaan dan juga
tradisi yang berbeda semua itu tidak bisa terpungkiri karena semua itu sebuah
fakta. Namun ketika diamati, dilihat dan berkacamata pada negara yang mayoritas
penduduknya beragama islam, mereka saling menyalaahkan satu dengan yang lainya,
dan akhirnya akan menimbulkan perpecahaan dalam internal negaranya, begitu juga
sunni yang ada.
Berbeda dengan Indonesia walapun berbeda – beda, tetap menjadi
sebuah kesatuan yang saling mengikat. Hal tersebut dikarenakan mayoritas
penduduk muslim Indonesia mengikuti golongan ahlussunnah wal jama’ah.
Ahlussunah wal jama’ah yang ada di Indonesia nampaknya berbeda dengan
ahlussunah di negara lain. Dikarenakan ahlussunnah yang ada diinonesia tetap
mempertahankan tradisi kebudayaan asli Indonesia, sehingga tidak ada suatu
pertikaian dikarenakan islam masuk secara damai tanpa mengubah budaya lama.
Seperti halnya yang di uangkapkan oleh Habib Luthfi bin Yahya bila tidak adanya
sebuah wadah untuk aswaja maka akan hancur karena tidak ada kekuatan yang
menjadikan untuk tetap bertahan.
Dan Indonesia memiliki nidhom tersebut yakni Nahdlatul Ulama,
Nahdlatul ulama memiliki sebuah peranan yang bersar dalam mewujudkan cita-cita
bangsa Indonesia. Dan Nahdlotul Ulamalah yang sekarang masih tetap
mempertahankan tradisi keislaman ala Indonesia asli (asli dari bangsa
Indonesia). NU memiliki tanggung jawab penuh untuk merawat tradisi dari leluhur
yakni walisongo sebagai penyebar islam, memiliki kelembutan dan sikap ramah
tamah terhadap pribumi Indonesia. Berangkat dari situlah NU memiliki sebuah
landasan beragama berdasarkan sikap Tasamuh, Tawazun, Ta’adul, dan ta’awun.
Ke-empat itulah jadi sebuah tonggak berkehidupan Ahlussunah Wal Jamaah
Annahdliyyah.
Sejak dari pertama didirikan pada 31 januari 1926 M / 16 Rojab 1344
H, peran yang dimainkan NU sangat luar biasa hingga sampai hari ini tepat pada
31 jannuari 2019, merupakan ulang tahun NU ke-93 secara hitungan umur NU lebih
tua dari kemerdekaan Indonesia. Itu artinya NU juga ikut berperan dalam
mempertahankan, dan berjuang untuk bangsa Indonesia hingga saat ini. Indonesia
besar dan tidak terpecah belah juga di
jaga oleh NU, Warga nahdiyah siap untuk mati memperthankan bangsa Indonesia,
siapa yang merongrong bagsa Indonesia dan pancasila maka NU akan siap tampil
sebagai garda terdepan dalam memebrantas golongan tersebut. Ansor, dan
organisasi saypnya, Barisan Serba Guna (BANSER) serta para pemuda aktivis dan
seluruh banom yang dimiliki oleh NU
sampai detik ini terus memberikan kontribusi penuh kepada bangsa Indonesia.
Dalam hal keperempuanan terdapat ibu-ibu muslimat sebagai sebuah
tempat merawat dan mendidik anak-anak agar menjadi orang yang mencintai tanah
airnya. Juga telah telah berkontribusi dari hal pendidikan anak usia dini dan
masih banyak lagi peran para Mslimat Nu untuk Indonesia. Begitu juga para
pemuda perempuan terdapat Fatayat NU dalam hal pendidikan terdapat IPNU dan
IPPNU. Dalam bidang sosial ada LAZIZNU, NU CARE, hal ini membuktikan bahwa NU
bukan tidak bisa apa-apa, justru NU terus bergerak disemua bidang demi
membangun peradapad dengan landasan “ Merawat tradisi terdahulu dan mengambil
perkara baik yang baru”.
Namun pada akhir-akhir ini banyak yang menfitnah dan menebar
kebencian terhadap NU, tidak menyukai dan suka menganggap salah NU. Akan tetapi NU menyikapinya dengan
sangat rapi, karena bila terburu maka akan menjadikan langkah fatal dikarenakan
semua yang dikatakan dan dialakukan oleh warga NU selalu di salah artikan.
Dengan bertambahnya umur NU akan senatiasa sangat dewasa dan mampu untuk
mewujudkan khitah NU oleh Mbah Hasyim ‘Asy’ari. Dan NU akan tetap menjaga para
ulama’ Nusantara dan menyebarkan paham ahlussunnah annahdiyah lewat Islam
Nusantara nya.
Selamat harlah NU ke-93 tahun
31 januari 2019/31 januari 1926
Merawat Tradisi Membangun Peradaban
Lewat Para Kyai, Ulama Dan Santri
Untuk Menjaga Negeri.
0 Komentar