Hot Posts

6/recent/ticker-posts

Biarkan Sekolah Tetap Menjadi Sekolah



Oleh: Angga Ekatama
Ingatkah kamu pelajaran Bahasa Indonesia ketika SMA? Apa yang kamu pelajari? Pernahkah kamu disuruh membaca karya sastra anak bangsa, “Bumi Manusia” Bung Pramoedya atau bahkan terjemahaan “Max Havelaar” karya Multatuli? Saya yakin yang membekas hanya puisi “Aku” oleh Chairil Anwar, itu pun juga ketika masih di bangku Sekolah dasar. Alih-alih sastra, masa SMA kita hanya diajarkan aspek produktif dari bahasa ibu kita. Kita diajar bagaimana bersurat, menulis surat kuasa, surat lamaran kerja. Fenomena ini bukan kebetulan semata, ia adalah buah nyata suatu filosofi tak terkata tapi nyata dalam pendidikan di Indonesia, bahwa sejatinya pendidikan bukan untuk memupuk ilmu anak muda tapi untuk memproduksi tenaga kerja.

Cermatilah di sekitar kita. Pasti banyak yang akan kamu temukan iklan sekolah tinggi, baik di internet, radio, televisi atau sekedar baliho. Bidangnya bermacam-macam, mulai pariwisata hingga informatika. Apa yang mereka iklankan? Apakah mengiklankan pendidikan berkualitas, mencetak cendekia pelopor ilmu di bidangnya? Tidak. Yang diiklankan adalah serapan tenaga kerja alumninya dan besarnya gaji mereka. Mungkin kamu berpikir ini tak masalah. Lagi pula sekolah tinggi bukan universitas, dualisme orientasi ketenagakerjaan dan kecendekiaan ini pun ada di sistem edukasi Perancis dan Belanda. Sekolah tinggi mencetak pegawai, universitas mencetak profesor. Sama seperti perbedaan orientasi SMA dan SMK.

Tapi ternyata paradigma sekolah sebagai pabrik, tak terbatas pada sekolah kejuruan dan sekolah tinggi. Pada universitas-pun paradigma ini telah meresap. Saya mengalami sendiri saat masa-masa orientasi sebagai mahasiswa baru, mungkin kamupun juga mengalaminya. Ketika itu para petinggi civitas akademika berbicara dari podium mengingatkan kita memanfaatkan kesempatan untuk menimba hard skill dan soft skill. Untuk apa? Agar lebih mudah diterima kerja dan nantinya agar sukses di sana. Jarang sekali diberi wejangan agar rajin belajar sehingga bisa meneliti dan mengajar atau diberi wejangan untuk membaca agar bisa menulis.

Dalam pemerintahan dan bernegara pun tak jauh beda. Bahkan bertambah pula produk yang di produksi dari pabrik bernama sekolah itu. Produk baru itu bernama penelitian, properti intelektual. Tapi penelitian yang dianggap produk berharga hanya beberapa jenis tertentu, yaitu yang berpotensi di industrialisasi dan dimonetisasi. Lainnya dianggap penelitian kelas dua. Inilah yang terjadi ketika kapitalisme sudah mendarah daging, seperti obat yang sudah overdosis. Dalam dosis kecil, dosis terapi, ia mampu menumbuhkan ekonomi, merangsang pasar, memacu investasi, mempekerjakan warga, memberi penghidupan. Tapi ketika sudah overdosis, maka semua aspek kehidupan digulung dan ditelannya, tak terkecuali pendidikan.

Pendidikan seharusnya mendidik, menumbuhkan pemahaman yang sebenarnya. Pemahaman tentang apa? Tentang hal-hal yang menjadikan murid manusia seutuhnya, yang terasah tak hanya otak logikanya tapi juga hati nuraninya. Pendidikan harus memberi murid wawasan, bukan hanya untuk mencetak nilai melalui pekerjaan, tapi juga untuk menjadi anggota masyarakat yang bermakna. Yang terpenting lagi, pendidikan seharusnya mampu menjadikan murid berpikir mandiri untuk dirinya sendiri selepas dari guru dan ruang kelas.

Di sini saya tidak setuju dengan mereka yang mengkritisi kapitalisme pendidikan dengan menyalahkan institusi sekolah. Sekolah tetap perlu. Tetapi biarkan sekolah tetap menjadi  sekolah, jangan ubah dia menjadi pabrik. Bagaimana pun tingkatan pertama dari pendidikan adalah menimbulkan kesadaran dari “saya tidak tahu bahwa saya tidak tahu” menjadi “saya tahu bahwa saya tidak tahu”. Pendidikan massal dan sekolah masih menjadi solusi paling elegan untuk menimbulkan kesadaran ini pada sebanyaknya insan.

Akan tetapi biarkanlah sekolah itu berkurikulum yang humanis, yang menempatkan murid sebagai manusia rasional bukan bahan mentah untuk produksi tenaga kerja. Ajarkanlah pada para murid sastra dan filsafat, seni dan sejarah. Tidak semua pekerjaan membutuhkan seorang sarjana mengerti kalkulus, genetika, fisika kuantum, atau kimia nuklir. Tapi segenap insan manusia harus bisa berfilsafat untuk berpikir mandiri, tahu sejarah untuk belajar darinya, menikmati keindahan seni nan rupawan, dan yang terpenting, bersastra: membaca dan menulis untuk terus belajar.[]

Posting Komentar

2 Komentar

  1. Jos lahh sahabat 1 iki..lanjutkan💪💪💪💪💪

    BalasHapus
  2. bener banget nih. pantes aja rakyat kita terutama dari golongan muda sangat sedikit yang memiliki cara berpikir yang kritis.

    terima kasih untuk artikelnya, sangat membantu dan memberikan pemahaman.

    BalasHapus