Korp
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Puteri atau bisa disingkat KOPRI, adalah wadah
pengembangan kader pemrempuan dalam PMII. Di tingkat Rayon Wisma Tradisi juga
terdapat terdapat lembaga semi otonom rayon yang khusus mendalami tema
Ke-KOPRI-an yaitu LSO-R Lingkar Permata. Nah, dalam rangka memperingati Harlah
KOPRI ke-51, kali ini L-SOR Lingkar Permata mengadakan diskusi Ke-KOPRI-an
(17/09/2018), dipandu Sahabati Ilma dan sahabi Winda.
Dalam
sejarah yang muncul dan berkembang, gerakan perempuan yang muncul di barat di kemudian
hari akan memberikan pengaruh yang besar terhadap tumbuhnya kesadaran akan peranan
perempuan di seluruh dunia. Adapun di barat, gerakan perempuan dapat dibagi
menjadi dua, yakni Amerika dan Eropa. Gerakan perempuan di Amerika muncul pada
tahun 1800 M. Gerakan ini digunakan untuk mengentaskan permasalahan perempuan
di Amerika pada masa dulu, yakni permasalahan tingkat buta huruf dan rendahnya skill
(kemampuan) kalangan perempuan kala itu. Pada masa itu, peranan perempuan dalam
berbagai bidang juga amat dibatasi, hingga kemudian muncullah tokoh Susan B.
Antony yang merupakan salah satu tokoh perempuan yang bergerak untuk
membangkitkan semangat perempuan di Amerika. Susan B. Antony inilah yang
mencentuskan IWD (International Women Day) yang telah diresmikan oleh
PBB sebagai hari untuk memperingati begitu besarnya peran perempuan di dunia.
Berlanjut
ke Eropa, di masa dimana perempuan mengalami keterpurkan karena kebebasan
perempuan untuk melakukan sesuatu amat dibatasi. Salah satu tokoh perempuan
yang menentang diskriminasi tersebut adalah tokoh perempuan dari Prancis, Clara
Zetkin. Perempuan yang lolos dari huru hara konflik di Jerman, kemudian membangun
suatu gerakan perubahan menuntut kesetaraan atas eksistensi perempuan dengan laki-laki.
Di Rusia juga muncul gerakan-gerakan serupa demi memperjuangkan hak-hak
perempuan di sana.
Gerakan
perempuan tidak hanya berhenti di Barat, di Timur Tengah juga bermunculan tokoh
dan gerakan yang juga memerjuangkan hal yang sama. Sejak maunculnya Islam, agama
ini telah membawa pengaruh (perubahan) besar bagi sejarah dunia dan timur
tengah perihal kedudukan perempuan. Sebelum Islam datang, sebagaimana kita
ketahui bersama, perempuan di wilayah Timut Tengah mempunyai kedudukan rendah
di hadapan laki-laki, melahirkan suatu budaya patriaki di masyarakatnya.
Perempuan dianggap sebagai makhluk lemah dan tidak mempunyai hak apa-apa. Maka tindakan
keji seperti membunuh anak perempuan yang baru lahir, karena dianggap sebagai
aib, adalah sebuah kewajaran kala itu, hingga datangnya Islam.
Konflik
yang terjadi pada abad 19/20 M khususnya kala Prancis dan Inggris menjajah
sebagian wilayah Timut Tengah juga turut memantik tumbuh suburnya gerakan perempuan
di sana. Keinginan untuk melawan keterbelakangan di kalangan perempuan (Feminisme)
tidak hanya mereka lakukan lewat sejumlah aksi tapi juga turut aktif mendirikan
sekolah-sekolah sebagai wadah peningkatan kwalitas pendidikan perempuan dan
masyarakat.
Lalu
bagaimana dengan gerakan perempuan di Indonesia? Secara umum gerakan perempuan
di Indonesia dibagi menjadi 2 fase, yakni fase Orde Lama dan fase Orde Baru.
Meskipun demikian, sejatinya sebelum Indonesia merdeka juga sudah bermunculan
gerakan-gerakan perempuan. Beberapa gerakan perempuan yang muncul di masa
penjajahan Belanda dan Jepang antara lain, Sekolah Desa, Aisyiah, (Gerakan Perempuan
Muhammadyah), dan Fuji inkai (perkumpulan untuk perempuan Indonesia). Di
masa Orde Lama, Presiden Soekarno dikenal memuliakan perempuan hal ini
dibuktikkan dengan usaha meningkatkan gerakan perempuan Indonesia. Di masa Orde
Baru lahir organisasi GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia) yang ternyata kemudian
mengalami skandal pelecehan yang memprihatinkan.
Hingga
kini, gerakan-gerakan perempuan masih terus aktif memperjuangkan hak-hak perempuan.
KOPRI yang notabene badan yang menaungi perempuan di PMII memiliki cita cita
mulia untuk mengembangkan skill dan kualitas kaum wanita lewat pelatihan dan
proses edukasi serta advoasi. KOPRI sendiri berdiri pada tanggal 25 november
1967 tujuh tahun setelah berdirinya PMII. Akan tetapi pada kongres di Medan
tahun 2000 KOPRI sempat dibubarkan karena adanya kekhawatiran dari sejumlah
kader akkan timbulnya ketidakfokusan gerak organisasi. Pada tahun 2003 KOPRI
kembali dimunculkan untuk mewadahi gerakan perempuan PMII.
Gerakan
KOPRI pun juga ada dalam UIN Sunan Kalijaga yang diawali dengan lahirnya PMII
di UIN Sunan Kalijaga. Jika di KOPRI tingkat Komisariat Pondok Sahabat UIN SUKA
ada gerakan GERGET, maka dalam PMII Rayon Wisma Tradisi terdapat LSOR Lingkar
Permata sebagai wadah gerakan KOPRI di Rayon Wisma Tradisi. Dalam perjalanan di
KOPRI terdapat jenjang yang mewadai teori mengenai nilai-nilai yang ada di
gerakan perempuan PMII. Adapun jenjang yang diadakan yakni formal dan informal,
adapun formal ada SIG, SKK, dan SKKN. Sedangkan dalam jenjang yang diadakan
informal bisa dilakukan dengan melakan diskusi menangani teori keperempuanan.
Program kerja KOPRI Lingkar Permata diantara diskusi mengenai tokoh feminis dan
fiqih wanita (sebagai program kerja baru).
Akan
tetapi dalam gerakan yang ada di perempuan itu bertujuan bukan untuk eksistensi
semata. Gerakan yang ada itu bertujuan untuk meningkatkan kwalitas perempuan
dalam berproses bersama, nilai KOPRI ada 2 yaitu politik dan sosial. Dalam
ranah nilai politik berati tujuan KOPRI berada untuk memposisikan perempuan
agar tidak mersasa dibawah laki-laki, jika beraada dalam ranah sosial KOPRI
bertujuan untuk selalu berbanding sama dengan laki-laki yakni dalam hal
mencurahkan pola pemikiran dan kekuatan untuk berbuat sesuatu.
Namun
dalam hal ini kesadaran yang dimiiliki perempuan masih belum begitu terlihat
untuk selalu berkembang. Semisal dalam era sekarang perempuan sudah diberikan
kebebasan akses pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi,
tetapi dalam daerah kecil pemikiran perempuan dibatasi untuk
mencapai kebebasan pendidikan yang lebih maju padahal SDM (Sumber Daya Manusia)
yang dimiliki Indonesia 60% dikuasai seorang perempuan. Oleh sebab itu
eksistensi perempuan harus tetap dijaga agar keberadaan perempuan tidak hanya
dalam hal jasad (fisik) semata, bila perempuan hanya dianggap ada dalam hal
jasad tetapi tidak dalam pemikiran maka itu sama halnya menganggap perempuan
musnah. (ANDI/Editor: Nabil)
4 Komentar
Hidup perempuan yang melawan
BalasHapusMantap,tebarkan terus 'virus gila menulis'.
BalasHapusPerempuan merupakan tempat pendidikan awal bagi anak-anaknya. Oleh karena itu generasi yang hebat biasa dihasilkan juga dari perempuan yang hebat. Maka jadilah Perempuan yang hebat agar generasi bangsa hebat
BalasHapus"Berbicara mengenai perempuan berarti berbicara mengenai masyarakat" Ir.soekarno
BalasHapusHidup perempuan- laki2 dalam melumpuhkan diskrimnasi~